Jakarta (ANTARA) - Industri perfilman Indonesia mencatat babak baru pemanfaatan teknologi produksi virtual (virtual production) untuk film horor misteri "Bisikan Desa Gringsing".

“Virtual production bukan sekadar teknologi. Ini adalah bahasa kreatif baru bagi penceritaan Asia Tenggara. Kami bangga bisa menjadi pionir penggunaannya di perfilman horor Indonesia bersama para partner kami,” ujar CEO Oceanus Media Global (OMG Studios) Nick GC Tan lewat siaran pers di Jakarta pada Senin.

Karya Sutradara Ivander Tedjasukmana itu diklaim menjadi film horor panjang pertama di Indonesia yang memakai "LED volumetric stage" beresolusi tinggi.

Baca juga: BPI sebut partisipasi di Cannes perkuat posisi film Indonesia

Teknologi modern tersebut menampilkan lingkungan "digital fotorealistik" mencekam secara langsung dengan ketepatan pengambilan gambar yang akurat, mulai dari jalanan berkabut hingga kemunculan supranatural pada struktur desa yang terasa mengancam.

Rumah produksi Mandela Pictures bersama OMG Studios memakai fasilitas studio canggih di Iskandar Malaysia Studios (IMS) selama proses pengambilan gambar.

Kolaborasi produksi internasional antara Indonesia, Singapura, dan Malaysia itu mendapat dukungan insentif penuh dari pemerintah ketiga negara tersebut.

Baca juga: DKI pelajari strategi Cannes bangun ekonomi kreatif berbasis event

Di Malaysia dengan program Film in Malaysia Incentive Plus (FIMI+) yang dikelola Studios Film Office (SFO).

Di Singapura, produksi film itu didukung oleh Infocomm Media Development Authority (IMDA).

Sedangkan di Indonesia, film ini mendapatkan dukungan dari Kementerian Kebudayaan RI.

Baca juga: Omara Esteghlal dan Agnes soroti konflik keluarga di 'Original Wound'

Aktris Aghniny Haque bergabung dalam jajaran pemeran sebagai tokoh utama bernama Hesti.

Alur cerita berfokus pada perjalanan Hesti mencari ayahnya yang hilang hingga terjebak teror arwah.

Aktor kawakan Surya Saputra dan Kiki Narendra, hingga aktris Mian Tiara dan Fatmah Nahdi turut memperkuat jajaran pemain.

Baca juga: Kemenbud dorong sineas muda ke global lewat Next Step Studio Indonesia

Mandela Pictures dan OMG Studios memakai momentum pasar global Marche du Film di Festival Film Cannes (Cannes Film Festival) 2026 untuk merilis lima foto adegan perdana.

Pihak studio membidik penayangan resmi di bioskop Indonesia pada 2026, dilanjutkan dengan Malaysia dan Singapura, serta ke wilayah Turki dan Azerbaijan.

Baca juga: PH asal Korea akan bawa film horor Indonesia ke festival film Cannes

Pewarta: Abdu Faisal
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.