Jakarta (ANTARA) - Ketua Satgas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Darmawan Budi Setyanto, Sp.A, Subsp.Respi(K) mengingatkan pentingnya pengaturan aktivitas luar ruangan dan pemenuhan cairan pada anak di tengah cuaca panas ekstrem selama musim kemarau seiring ancaman fenomena El Nino Godzilla.

Dalam seminar daring terkait dampak El Nino terhadap kesehatan anak yang diinisiasi IDAI, Selasa, Darmawan mengatakan upaya ini juga untuk mencegah anak dari risiko "heat sroke", kondisi ketika tubuh terlalu panas (hipertermia), di mana suhu tubuh melonjak dan sistem pengatur suhu tubuh terganggu atau bahkan gagal berfungsi.

“Yang perlu ditekankan adalah kebiasaan minum. Ditekankan pada anak-anak untuk membawa bekal air minum dan sering-sering minum,” kata dia.

Baca juga: Aktivitas tanpa asupan cairan cukup bisa sebabkan "heat stroke"

Baca juga: Kemenkes beri tips sehat cegah "heat stroke" saat Armuzna

Di tengah cuaca ekstrem ini, banyak anak yang tetap harus menjalankan aktivitasnya sehari-hari, yang tidak jarang berada di luar ruangan.

Darmawan mengatakan, cuaca panas berkepanjangan dapat menyebabkan dehidrasi pada anak, terutama saat beraktivitas di luar ruangan.

Menurut dia, anak kerap tidak segera minum karena belum merasa haus, padahal tubuh tetap membutuhkan cairan untuk menjaga fungsi metabolisme dan pengaturan suhu tubuh.

“Kadang-kadang anak kalau tidak merasa haus sekali, tidak mau minum. Ini perlu ditekankan bahwa air ini sangat penting untuk menjaga regulasi tubuh kita, metabolisme tubuh kita akan tetap berfungsi dengan baik,” ujarnya.

Darmawan juga mengimbau orang tua membiasakan anak minum air hangat dan tidak mudah terpengaruh iklan minuman dingin.

“Kita ubah jargon dari dingin lebih nikmat jadi hangat lebih nikmat dan sehat,” katanya.

Baca juga: Waspadai "heat stroke" saat musim kemarau

Selain itu, ia menyarankan anak menggunakan pelindung kepala seperti topi saat beraktivitas di luar ruangan guna mengurangi paparan sinar matahari langsung.

Dalam kesempatan itu, Darmawan juga mengingatkan orang tua untuk mengenali gejala awal heat stroke agar dapat segera ditangani sebelum kondisi memburuk.

Menurut dia, heat stroke terjadi ketika mekanisme pengaturan suhu tubuh terganggu akibat paparan suhu lingkungan yang sangat tinggi.

“Tandanya apa? Suhunya meningkat dengan cepat, bisa sampai lebih dari 40 derajat Celcius, tidak berkeringat, tapi kulit panas,” ujarnya.

Ia menjelaskan kondisi tersebut terjadi karena tubuh gagal mengeluarkan panas melalui keringat sehingga suhu tubuh meningkat drastis. Pada kondisi berat, heat stroke dapat menyebabkan gangguan fungsi otak hingga kejang dan kehilangan kesadaran.

“Dan juga sebagai dampak lainnya adalah kita bisa melihat nafas orang yang mengalami stroke ini mengalami nafas yang cepat dan dangkal,” imbuhnya.

Baca juga: Fenomena El Nino Godzilla berisiko "heat stroke" hingga diare anak

Baca juga: Jepang catat 100 ribu orang lebih dilarikan ke RS akibat heat stroke

Baca juga: Kepadatan penduduk di kota besar jadi penyumbang peningkatan suhu

Pewarta: Pamela Sakina
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.