Jakarta (ANTARA) - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti memaparkan lima model kebijakan guna memperkuat kompetensi sekaligus daya saing para lulusan vokasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai pekerja lokal maupun global.

“Kami berusaha agar SMK ini bisa menjawab tantangan melalui peningkatan kualitas dan mutu sehingga kami sekarang memiliki kebijakan lima model SMK. Ini semua adalah bagian dari upaya kami untuk memenuhi hak konstitusi bagi warga negara,” kata Mendikdasmen Mu'ti di Jakarta pada Rabu.

Hal tersebut disampaikan dalam Peluncuran Program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri (3+1) SMK yang dipantau melalui YouTube Direktorat SMK-Kemendikdasmen.

Adapun model kebijakan yang pertama ialah penyelenggaraan SMK reguler yang menawarkan berbagai macam program keahlian dan kini diarahkan agar lebih relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

“Kami dorong agar program keahlian itu lebih relevan dengan kebutuhan di dunia kerja, sehingga kami memberikan keluasan kepada pemerintah provinsi dan juga di kementerian untuk program keahlian itu bisa fleksibel,” ujarnya.

Kedua, pihaknya tengah berupaya mengembangkan SMK yang menawarkan program studi berbasis keunggulan lokal, mulai dari pengembangan keahlian pada sektor pertanian, peternakan, ataupun industri kerajinan.

Pihaknya berharap model kebijakan demikian dapat menekan angka migrasi generasi muda ke luar wilayahnya sekaligus menggerakkan kegiatan ekonomi lokal.

Model kebijakan ketiga, lanjutnya, ialah SMK Tailor Made yang pengembangan program studi hingga kurikulumnya berdasarkan kebutuhan perusahaan tertentu melalui payung kerja sama.

“Banyak sekali perusahaan yang memerlukan tenaga kerja dengan keahlian tertentu dan mereka memfasilitasi, tetapi dengan kontrak setelah murid lulus harus bekerja di perusahaan mitra sebagaimana yang sudah sebagian kita lakukan,” kata Mu'ti.

Keempat, ia menambahkan pihaknya kini juga tengah mengembangkan model kebijakan SMK tematik yang dirancang untuk berkarier di luar negeri sehingga para murid selama proses pembelajaran sudah langsung dibekali dengan kemahiran bahasa dan kebudayaan negara mitra.

Model kebijakan kelima ialah pengembangan SMK 3+1 yang mempersiapkan para murid untuk masuk dunia kerja, baik di dalam maupun luar negeri selama satu tahun, selain masa belajar reguler selama tiga tahun.

Pewarta: Hana Dewi Kinarina Kaban
Editor: Wuryanti Puspitasari
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.