Jember, Jawa Timur (ANTARA) - Pelaksana tugas Deputi Bidang Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Pangarso Suryotomo meminta daerah untuk mewaspadai dampak kemarau panjang pada musim kemarau 2026.
"Kami sudah membuat surat edaran kepada seluruh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk mewaspadai dampak kekeringan dengan melakukan mitigasi," katanya setelah menghadiri kegiatan Forum Pengurangan Risiko Bencana Jawa Timur di Badan Koordinasi Wilayah Pemerintahan dan Pembangunan Jatim di Jember (Bakorwil V Jember), Rabu.
Baca juga: BPBD: Empat kecamatan di Boyolali kekeringan & minta bantu air bersih
Menurutnya, di beberapa daerah masih turun hujan meskipun ada El Nino, sehingga untuk mengatasi dampak kekeringan harus melihat rencana kontijensinya terkait penanganan, mempersiapkan sumber daya, kebutuhan air bersih dan mitigasi lingkungan dengan menguatkan desa tangguh bencana (Destana).
"Perlu juga mewaspadai kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dengan memastikan kesiapsiagaan masyarakat, informasi dari masyarakat, BPBD dan relawan terkait langkah yang dilakukan untuk mengatasi hal itu," katanya.
Ia menjelaskan pemerintah daerah melalui BPBD biasanya menyusun rencana kontijensi terkait kekeringan pada musim kemarau, sehingga perlu pemetaan dan penguatan yang harus dilakukan sesuai peran lembaga masing-masing.
"Kami berharap Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) yang merupakan kolaborasi multipihak juga melakukan kajian risiko bencana dalam menghadapi dampak kekeringan dari kemarau panjang," katanya.
Sementara itu, Kepala BPBD Jember Edy Budi Susilo mengatakan pihaknya sudah menyiapkan rancangan surat keputusan (SK) Bupati tentang Siaga Darurat pergantian dari musim hujan ke kemarau yang dapat menimbulkan dampak kekeringan.
"Kami juga sudah menyiapkan langkah-langkah mitigasi ketika terjadi kekeringan dan Karhutla di sejumlah titik di kawasan Jember," katanya.
Baca juga: BPBD Bantul tetapkan siaga kekeringan dampak kemarau panjang
Baca juga: BMKG keluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis di DIY
Ia mengatakan kesiapsiagaan dari semua unsur juga sangat penting jika nantinya terjadi kekeringan yang cukup parah di Jember.
Kegiatan konsolidasi dan Penguatan FPRB yang dilakukan di Bakorwil Jember itu didukung oleh Program SIAP SIAGA, Kemitraan Indonesia - Australia untuk Penanggulangan Bencana.
Kegiatan tersebut sebagai bentuk komitmen Program SIAP SIAGA dalam mendukung penguatan FPRB sebagai wadah koordinasi pentahelix bencana yang diharapkan dapat membawa misi kolaborasi dalam penanggulangan bencana di Jawa Timur.
Pewarta: Zumrotun Solichah
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.