Wilayah adat menyimpan banyak kawasan hutan dan sumber pangan lokal yang penting bagi keberlanjutan ekosistem

Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, mengatakan masyarakat adat memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem pangan lokal dan keanekaragaman hayati di Indonesia.

Dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu, Lestari mengatakan pemahaman mengenai pentingnya peran masyarakat adat perlu diperkuat dalam momentum Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati setiap 20 Mei.

“Wilayah adat menyimpan banyak kawasan hutan dan sumber pangan lokal yang penting bagi keberlanjutan ekosistem,” katanya.

Menurut dia, masyarakat adat menjadi benteng terakhir dalam penyelamatan keanekaragaman hayati sekaligus mendukung terwujudnya kedaulatan pangan berkelanjutan.

Ia mengatakan tema Hari Kebangkitan Nasional 2026, “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”, berkaitan dengan tema Hari Keanekaragaman Hayati Internasional pada 22 Mei, yakni “Bertindak pada Ranah Lokal yang Berdampak Global”.

Baca juga: Lestari: Bangun kesadaran kolektif antisipasi penyebaran hantavirus

Kedua momentum tersebut, kata dia, menjadi upaya membangun kepedulian pemangku kepentingan dan masyarakat terhadap masa depan lingkungan dan pangan nasional.

Lestari menilai di tengah ancaman krisis iklim dan penyeragaman konsumsi pangan, wilayah adat terbukti mampu menjaga ekosistem sekaligus menyediakan sumber nutrisi secara mandiri.

Berdasarkan data Badan Registrasi Wilayah Adat, sebanyak 4,9 juta hektare areal budidaya masyarakat adat menjadi penopang sistem pangan lokal mandiri. Selain itu, masyarakat adat dan komunitas lokal turut melestarikan 80 persen biodiversitas dunia.

Baca juga: MPR: Panduan pendidikan antikorupsi langkah strategis tanam integritas

Ia juga menyoroti potensi keanekaragaman hayati Indonesia yang dinilai belum dimanfaatkan optimal sebagai sumber pangan alternatif.

Menurut data Badan Riset dan Inovasi Nasional, Indonesia memiliki lebih dari 5.500 jenis tanaman pangan dan 33.000 jenis tanaman obat.

Lestari mengatakan konsumsi pangan masyarakat Indonesia pada masa lalu lebih beragam, seperti beras, singkong, jagung, sagu, dan umbi-umbian.

Baca juga: MPR: Reformasi birokrasi jangan ciptakan ketidakpastian baru bagi guru

Namun, dalam perkembangannya konsumsi nasional didominasi beras dan gandum sehingga mendorong pembukaan lahan tanaman pangan monokultur yang dinilai merusak tata ruang lokal.

“Padahal kita mampu membangun ketahanan pangan berbasis kearifan lokal,” ujar Lestari yang juga anggota Komisi X DPR RI ini.

Ia pun mendorong peningkatan pemahaman mengenai pentingnya peran masyarakat adat dalam menjaga keanekaragaman hayati dan sumber pangan nasional.

Baca juga: MPR tekankan penguatan hukum dalam pencegahan kekerasan anak

Baca juga: Baleg DPR buka peluang desa adat terlibat atas izin investasi

Pewarta: Fath Putra Mulya
Editor: Abdul Hakim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.