Langkah penataan ekspor komoditas ini penting untuk memastikan bahwa kekayaan sumber daya alam Indonesia benar-benar memberikan manfaat optimal bagi negara dan rakyat

Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, mendukung komitmen Presiden Prabowo Subianto membenahi tata kelola ekspor sumber daya alam (SDA) melalui pembentukan badan pengelola ekspor.

Eddy dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu, mengatakan langkah tersebut sejalan dengan amanat Pasal 33 UUD 1945 untuk memastikan pengelolaan sumber daya alam dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kepentingan rakyat.

“Langkah penataan ekspor komoditas ini penting untuk memastikan bahwa kekayaan sumber daya alam Indonesia benar-benar memberikan manfaat optimal bagi negara dan rakyat,” katanya.

Ia menilai selama ini masih terdapat persoalan pelaporan nilai ekspor di bawah nilai sebenarnya (under invoicing) dan pengalihan harga (transfer pricing) dalam tata niaga ekspor sumber daya alam yang dilakukan oknum pelaku usaha.

Baca juga: Prabowo: kerugian ekspor curang selama 34 tahun capai Rp15.400 triliun

Menurut dia, kondisi tersebut menyebabkan penerimaan negara dari ekspor komoditas sumber daya alam belum optimal.

Eddy berharap mekanisme baru yang disiapkan pemerintah dapat memperkuat pengawasan, meningkatkan transparansi perdagangan komoditas, serta memaksimalkan penerimaan devisa negara di tengah tantangan ekonomi global dan kebutuhan pembiayaan pembangunan.

Meski demikian, ia mengingatkan implementasi kebijakan harus dilakukan secara hati-hati dan komunikatif agar tidak menimbulkan ketidakpastian di kalangan pelaku usaha.

“Para pembantu presiden perlu membangun komunikasi yang baik agar tidak muncul keraguan, kebingungan, maupun keresahan di kalangan pelaku usaha,” ujarnya.

Baca juga: Prabowo beri keringanan retensi dana hasil ekspor untuk sektor migas

Ia menambahkan sektor ekspor komoditas tetap membutuhkan kepastian regulasi dan iklim usaha yang sehat agar Indonesia mampu bersaing di pasar global.

Karena itu, proses transisi menuju mekanisme baru perlu mengedepankan kepastian hukum, kemudahan berusaha, transparansi, dan kolaborasi antara pemerintah dengan pelaku industri.

“Tujuan utamanya adalah memperkuat kepentingan nasional tanpa mengganggu keberlangsungan usaha dan daya saing ekspor Indonesia,” katanya.

Komitmen pembentukan badan pengelola ekspor sumber daya alam sebelumnya disampaikan Presiden Prabowo dalam Rapat Paripurna DPR RI ke-19 terkait Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal di Gedung DPR RI, Rabu pagi.

Baca juga: Danantara jelaskan alasan pilih bentuk BUMN baru khusus ekspor

Pewarta: Laily Rahmawaty
Editor: Abdul Hakim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.