Surabaya (ANTARA) - Langit di Kota Surabaya, Jawa Timur, menjelang Idul Adha tahun ini selalu membawa ritme yang berbeda. Di gang-gang kampung, halaman masjid mulai dibersihkan. Tenda dipasang. Pisau diasah. Anak-anak berlarian di sekitar kandang darurat sambil menunggu sapi-sapi datang dari berbagai daerah.

Ada semangat gotong royong yang terus hidup dari tahun ke tahun. Namun, di balik suasana religius itu, kota besar seperti Surabaya menghadapi pertanyaan yang semakin rumit tentang bagaimana kurban dijalankan di tengah ancaman penyakit hewan, kepadatan permukiman, persoalan limbah, hingga tuntutan keamanan pangan.

Idul Adha tidak lagi hanya bicara tentang ibadah personal dan distribusi daging. Ia telah menjadi urusan kesehatan publik, tata kota, lingkungan, bahkan profesionalisme layanan.

Surabaya tampaknya membaca perubahan itu dengan lebih serius tahun ini. Pemerintah kota memperketat pengawasan hewan kurban melalui surat edaran yang mewajibkan vaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), kelengkapan Surat Keterangan Kesehatan Hewan, hingga pengawasan lokasi pemotongan.

Di sisi lain, Rumah Potong Hewan Surabaya memperkuat sistem biosekuriti, pemeriksaan dokter hewan, serta pemotongan yang lebih higienis dan terkontrol.

Langkah itu terlihat administratif di permukaan. Padahal sesungguhnya mencerminkan perubahan cara kota memandang kurban. Dari sekadar tradisi tahunan menjadi urusan mitigasi risiko perkotaan.


Ancaman senyap

Pengalaman Indonesia menghadapi wabah PMK beberapa tahun terakhir meninggalkan pelajaran penting. Ribuan ternak sempat terinfeksi, distribusi hewan terganggu, harga melonjak, dan kepercayaan masyarakat sempat menurun. Penyakit pada hewan ternyata dapat mengguncang ekonomi rakyat, sekaligus ketahanan pangan.

Karena itu, peningkatan lalu lintas ternak menjelang Idul Adha selalu menjadi masa rawan. Surabaya berada dalam posisi yang sensitif karena menjadi kota tujuan distribusi sapi dari berbagai wilayah Jawa Timur dan luar provinsi. Dalam situasi seperti ini, satu ekor hewan sakit yang lolos pengawasan bisa menimbulkan dampak besar.

Di sinilah relevansi pendekatan biosekuriti menjadi penting. Pemeriksaan antemortem dan postmortem yang dilakukan dokter hewan, bukan sekadar formalitas teknis. Pemeriksaan itu merupakan benteng pertama untuk memastikan daging yang sampai ke masyarakat benar-benar aman.

Kesadaran publik tentang keamanan pangan memang terus meningkat. Masyarakat, kini mulai mempertanyakan asal ternak, kondisi kesehatan hewan, hingga kebersihan proses pemotongan.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.