Jakarta (ANTARA) - Sembilan hakim konstitusi dan sebagian pegawai di lingkungan Mahkamah Konstitusi merayakan Idul Adha 1447 Hijriah/2026 secara bersama dengan melaksanakan shalat Id berjamaah di Aula Gedung I M, Jakarta, Rabu.

Imam shalat berjamaah oleh ustadz Deden Misbahudin Muayyad sekaligus bertindak sebagai khotib shalat Idul Adha yang berjudul "Qurban Sebagai Manifestasi Integritas Sosial".

Ketua MK Suhartoyo mengatakan kegiatan ini merupakan tahun kedua MK menyelenggarakan shalat Id dan penyembelihan hewan kurban di MK, Jakarta, dan juga di kompleks perumahan pegawai MK di Bekasi, Jawa Barat.

Menurut Suhartoyo, makna kurban membawa keberkahan sekaligus manifestasi ketakwaan diri.

"Tadi saya mendengar khutbah pak ustadz, ketika nanti kita ditanya oleh malaikat itu tidak ada orang terdekat di sekitar kita hanya hewan-hewan ini yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu," ujarnya.

Sebagai Ketua MK, Suhartoyo berharap Hari Raya Idul Adha ini menjadi momentum para pegawai untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Dia juga berterima kasih atas kontribusi pegawai yang menjadi bagian dari panitia kurban tahun ini.

Sementara itu, Ustadz Deden di dalam khutbah Idul Adha mengingatkan ibadah kurban merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam.

Sebagaimana telah disebutkan secara eksplisit di dalam Al-Quran Surat Al Kautsar ayat 2 yang artinya “Maka, laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!”

Sebagai mana perintah Allah pada ayat di atas, kata ustadz Deden, maka pada hari ini, yaitu Hari Raya Idul Adha dan tiga hari yang akan datang, seluruh umat Islam akan melaksanakan ibadah kurban.

"Hari Raya Idul Adha merupakan momentum mulia untuk membangun ketakwaan sekaligus memperkuat integritas sosial di tengah kehidupan masyarakat," ujar ustadz Deden.

Dia mengatakan ibadah kurban bukan sekadar penyembelihan hewan, melainkan simbol pengorbanan, kejujuran, kepedulian, dan tanggung jawab sosial serta keadilan.

Allah SWT berfirman di dalam Surat Al Hajj ayat 37 yang artinya, "Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu".

Ayat ini, kata dia, menegaskan bahwa inti kurban bukanlah formalitas ritual, melainkan kualitas moral dan ketulusan hati. Islam, yang ritual-ritualnya selaras dengan akal sehat telah menetapkan bagi umat Islam, di dalam Al Quran yang mulia bahwa kurban yang dipersembahkan tidak akan memberi manfaat kepada Allah sedikit pun, baik daging maupun darah hewan, melainkan dari ketakwaan mereka.

Ustadz Deden menekankan integritas sosial adalah keselarasan antara iman, ucapan, dan tindakan dalam kehidupan bermasyarakat. Seseorang yang memiliki integritas sosial tidak hanya baik secara pribadi, tetapi juga membawa manfaat, keadilan, dan rasa aman bagi lingkungannya.

Sebagaimana Imam Ghazali di dalam kitab ihya ‘ulumuddin berkata bahwa inti agama bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga penyucian akhlak dan tanggung jawab sosial.

Al Ghazali, kata ustadz Deden, menegaskan bahwa manusia yang terbaik adalah yang menjaga amanah, menjauhi kedzaliman, menolong sesama, dan menghadirkan kemanfaatan bagi masyarakat.

Menurut Imam Ghazali, kerusakan sosial berawal dari rusaknya hati dan hilangnya nilai amanah. Sehingga integritas sosial berarti konsistensi antara iman dan perilaku sosial. Orang yang saleh tidak cukup hanya rajin ibadah, tetapi juga harus jujur, adil, dan dapat dipercaya dalam kehidupan sosial.

Dalam konteks ini, kurban mengajarkan tiga nilai besar yaitu keikhlasan, persatuan dan solidaritas, serta keadilan.

Ustadz Deden mengatakan hari ini masyarakat membutuhkan integritas sosial yang kuat. Banyak krisis terjadi bukan karena kurangnya ilmu atau kekayaan, tetapi karena hilangnya kejujuran, amanah, dan kepedulian.

"Korupsi, ketidakadilan, manipulasi, dan perpecahan adalah tanda lemahnya integritas sosial. Maka Idul Adha seyogyanya harus menjadi momentum memperbaiki diri dan membangun masyarakat yang lebih berintegritas," kata ustadz Deden mengakhiri ceramahnya.

Baca juga: Menag: Idul Adha ajak umat teguhkan semangat keikhlasan dan kepedulian

Baca juga: Mendorong "redesain" skema karitas kurban

Baca juga: Indef proyeksikan nilai kurban sebesar Rp26,89 triliun pada 2026

Pewarta: Laily Rahmawaty
Editor: Laode Masrafi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.