Program seperti Kamis Mlipis membutuhkan konsistensi, pelatihan guru, materi ajar yang relevan, serta dukungan keluarga. Tanpa sinergi di luar sekolah, bahasa daerah berisiko hanya hidup dalam ruang formal yang terbatas waktu.
Surabaya (ANTARA) - Di sebuah ruang kelas di Kota Surabaya, percakapan pada hari Kamis tak lagi sepenuhnya menggunakan bahasa Indonesia.
Di antara deretan meja dan papan tulis, terdengar upaya pelan namun konsisten untuk menghidupkan kembali kosakata Jawa yang mulai jarang dipakai dalam keseharian anak-anak kota.
Pada hari itu, ada program “Kamis Mlipis” yang menempatkan bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan jembatan ingatan, identitas, sekaligus kebanggaan yang tengah diuji oleh perubahan zaman.
Program “Kamis Mlipis” hadir sebagai salah satu ikhtiar dunia pendidikan untuk menjawab tantangan besar: bagaimana menjaga bahasa ibu tetap hidup di tengah derasnya arus globalisasi dan budaya digital.
Namun di balik kesederhanaan gagasan itu, tersimpan kerja panjang kebijakan, dinamika sosial, hingga tarik menarik antara pelestarian budaya dan realitas keberagaman di ruang sekolah modern.
Baca juga: Badan Bahasa salurkan bantuan pemerintah untuk perkuat sastra daerah
Akar budaya
Kamis Mlipis tidak lahir dari ruang kosong. Program ini merupakan bagian dari strategi revitalisasi bahasa daerah yang secara nasional menyasar ratusan bahasa dan dialek di berbagai provinsi.
Data Kementerian Pendidikan menunjukkan sedikitnya 105 bahasa dan dialek telah menjadi sasaran revitalisasi dalam beberapa tahun terakhir, sebagai respons atas menurunnya penggunaan bahasa ibu di kalangan generasi muda.
Di tingkat lokal, Surabaya menjadi salah satu daerah yang menonjol dalam implementasi kebijakan ini. Penguatan bahasa Jawa di sekolah diperkuat melalui regulasi daerah yang menetapkan bahasa Jawa sebagai muatan lokal wajib di jenjang pendidikan dasar hingga menengah pertama.
Kebijakan ini menjadi fondasi formal yang membuat program seperti Kamis Mlipis tidak sekadar kegiatan tambahan, tetapi masuk dalam sistem pembelajaran.
Momentum pengakuan nasional melalui penghargaan Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) mempertegas posisi Surabaya sebagai salah satu simpul penting pelestarian bahasa ibu di Indonesia. Penghargaan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa upaya di tingkat kota memiliki resonansi dalam agenda kebudayaan nasional.
Baca juga: Dispendik Jatim imbau SMA/SMK gunakan bahasa daerah sepekan sekali
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.