Salah satu yang banyak disorot warga adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Jakarta (ANTARA) - Dua dekade lalu, warga mengetahui program sosial pemerintah dari pengumuman di balai desa, papan informasi kelurahan, atau media massa.
Pesan mengalir satu arah. Tidak ada ruang tanya, tidak ada umpan balik, dan hampir tidak ada cara bagi masyarakat untuk memverifikasi apakah program itu benar-benar berjalan di lapangan.
Hari ini, semuanya berubah. Program-program pemerintah bisa dievaluasi setiap hari oleh jutaan warga secara langsung, terbuka, dan tanpa diminta.
Salah satu yang banyak disorot warga adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menu yang kurang bergizi dikritik dalam hitungan menit. Distribusi yang terlambat dilaporkan sebelum surat resmi sempat dibuat.
Narasi positif pun banyak. Video singkat yang menunjukkan kepuasan anak-anak yang makan lahap di sekolah menyebar lebih cepat dari siaran pers mana pun.
Di sejumlah sekolah, kedatangan paket makanan bergizi kini menjadi momen yang ditunggu anak-anak. Video siswa membuka kotak makan hingga memperlihatkan menu favorit mereka beredar luas di media sosial.
Hari ini, program negara tidak lagi hanya hidup dalam Peraturan Presiden atau laporan kementerian, ia hidup di layar ponsel, di meja makan keluarga, di percakapan sehari-hari masyarakat.
Inilah pergeseran yang penting dipahami: bukan sekadar perubahan platform, melainkan perubahan logika komunikasi itu sendiri. Komunikasi pemerintah di era lama bertumpu pada kontrol pesan: informasi dikemas terpusat, disalurkan melalui media resmi, dan publik diposisikan sebagai penerima pasif.
Narasi menggeser data
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.