...Bagian paling kritis itu ada pada dapur

Sorong (ANTARA) - Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) mendorong pengawasan ketat terhadap kualitas pengelolaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Sorong, Papua Barat Daya, terutama pada aspek hygiene dan sanitasi dapur.

Ketua HAKLI Prof. Arif Sumantri di Sorong, Jumat, mengatakan pengawasan sanitasi sangat penting untuk mencegah potensi keracunan pangan dalam pengelolaan makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

“Bagian paling kritis itu ada pada dapur. Karena itu quality control hygiene dan sanitasi harus benar-benar melekat dalam tugas pokok pengelola SPPG,” katanya saat berkunjung ke Kota Sorong.

Menurut dia, selain melibatkan ahli gizi dan tenaga administrasi, setiap SPPG juga perlu didukung tenaga sanitasi lingkungan guna memastikan standar kebersihan pangan berjalan optimal.

Baca juga: BGN: Calon mitra dilarang bangun dapur MBG sebelum lolos verifikasi

Ia berharap ke depan setiap lima SPPG memiliki satu tenaga sanitasi lingkungan yang bertugas melakukan pengawasan secara berkala terhadap proses pengelolaan makanan.

Prof. Arif menjelaskan pengawasan sanitasi tidak hanya berfokus pada kualitas makanan, tetapi juga pengelolaan limbah pangan atau food waste agar tidak menjadi persoalan lingkungan.

“Food waste jangan dianggap limbah semata, tetapi harus dilihat sebagai potensi ekonomi sirkular yang bisa melibatkan masyarakat,” ujarnya.

Menurut dia, keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan limbah pangan dapat menjadi bagian dari pemberdayaan ekonomi sekaligus menjaga kebersihan lingkungan.

Ia juga menilai evaluasi terhadap sisa makanan perlu dilakukan untuk mengetahui menu yang disukai siswa dan masyarakat agar limbah makanan dapat ditekan.

“Kalau food waste masih tinggi berarti ada yang harus dievaluasi, misalnya menu yang kurang diminati,” katanya.

Baca juga: Ahli Gizi: Penekanan MBG 3B langkah strategis cegah stunting

Baca juga: MBG, komunikasi Pemerintah, dan pertaruhan kepercayaan publik

Pewarta: Yuvensius Lasa Banafanu
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.