Di dalam alirannya, sungai tidak hanya membawa air, tetapi juga membawa konsekuensi dari seluruh keputusan manusia di daratan, baik yang bijak maupun yang ceroboh

Jakarta (ANTARA) - Sungai merupakan suatu sistem ekologis yang bersifat dinamis dengan tingkat kerentanan tinggi terhadap berbagai tekanan lingkungan eksternal.

Dalam sistem yang dinamis itu, ikan yang hidup di sungai bertindak sebagai jangkar ekosistem sekaligus predator dan mangsa yang menjaga keseimbangan rantai makanan. Ketika populasi ikan menyusut, itu adalah indikator adanya bahaya besar yang sedang bergolak di bawah permukaan air.

Ikan adalah bioindikator yang jujur. Sensitivitas ikan terhadap kualitas air membuat kehadiran atau ketiadaannya bertindak sebagai bahasa alam yang memberi tahu manusia apakah ekosistem air sedang sehat atau bermasalah.

Berbagai kajian ilmiah menunjukkan bahwa sungai-sungai di banyak wilayah dunia sekarang ini mengalami tren pemanasan suhu air yang konsisten seiring meningkatnya suhu udara global. Kenaikannya memang tampak kecil di permukaan, sekitar 1 hingga 2 derajat celsius dalam sejumlah pengamatan jangka panjang. Tetapi dalam sistem ekologi sungai, perubahan sekecil itu dapat membawa implikasi yang tidak kecil.

Air sungai yang lebih hangat menurunkan kadar oksigen terlarut, mempercepat metabolisme organisme akuatik dan pada titik tertentu dapat meningkatkan risiko stres fisiologis hingga kematian pada spesies yang sensitif terhadap perubahan suhu.

Kerentanan seperti itu menjadi semakin nyata pada sungai-sungai dangkal yang kehilangan peneduh alami akibat degradasi vegetasi riparian, pembukaan lahan, dan perubahan tata guna lahan di wilayah hulu.

Tanpa tutupan pohon di sepanjang bantaran sungai, radiasi matahari mencapai permukaan air secara langsung dan mempercepat pemanasan, terutama pada musim kemarau yang lebih panjang dan kering.

Di wilayah tropis, pemanasan sungai bisa semakin cepat mengingat kondisi dasar sungai yang umumnya memang relatif hangat. Artinya, ambang toleransi termal sejumlah organisme sungai menjadi lebih sempit, sementara frekuensi kejadian suhu ekstrem meningkat.

Krisis pasokan oksigen

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.