Jakarta (ANTARA) - Indonesia sering disebut sebagai salah satu negara paling religius di dunia. Rumah ibadah berdiri di hampir setiap wilayah, kegiatan keagamaan berlangsung sepanjang tahun, dan identitas agama menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat.
Menurut Pew Research Center pada 2025, Indonesia menempati posisi kedua sebagai negara paling religius setelah Bangladesh, dengan hampir seluruh responden menyatakan percaya kepada Tuhan dan menganggap agama sebagai bagian penting dalam hidup mereka.
Sementara itu, CEOWORLD Magazine bersama Global Business Policy Institute pada 2024 menempatkan Indonesia pada peringkat ketujuh dari 148 negara sebagai negara dengan masyarakat yang paling taat dan berpegang teguh pada agama yang dianut.
Angka-angka tersebut tentu membanggakan. Namun, di balik statistik yang menunjukkan tingginya religiusitas, terdapat pertanyaan yang layak direnungkan bersama.
Mengapa di tengah kehidupan beragama yang begitu semarak, masih banyak perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai yang diajarkan agama? Mengapa ketertiban, kejujuran, dan kepedulian sosial belum sepenuhnya menjadi karakter yang melekat dalam kehidupan sehari-hari?
Fenomena ini terlihat dalam berbagai aspek kehidupan. Di ruang publik, masih mudah ditemukan perilaku tidak tertib, seperti melanggar aturan lalu lintas, tidak mengantre, atau membuang sampah sembarangan.
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, praktik korupsi masih menjadi persoalan serius. Data Transparency International melalui Corruption Perceptions Index menunjukkan peringkat Indonesia turun dari posisi 99 pada 2024 menjadi 109 dari 180 negara pada 2025.
Penurunan ini menunjukkan masih besarnya tantangan dalam membangun tata kelola yang bersih dan berintegritas.
Di sisi lain, wajah politik, birokrasi, pelayanan publik, hingga proses pengambilan kebijakan masih kerap diwarnai oleh praktik yang belum sepenuhnya ideal.
Bahkan, paradoks itu terkadang terlihat dalam kehidupan keagamaan sendiri. Tidak jarang muncul pemberitaan mengenai oknum pemuka agama yang terlibat dalam perilaku negatif, hingga tindakan yang bertentangan dengan nilai moral yang mereka ajarkan.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.