Surabaya (ANTARA) - Kota Surabaya tidak pernah benar-benar berhenti bergerak. Di balik lalu lintas yang padat, kawasan bisnis yang terus tumbuh, serta kampung-kampung yang tetap hidup dengan tradisi gotong royongnya, kota ini sedang menjalani proses panjang untuk menjawab satu pertanyaan besar. Bagaimana menjaga laju pertumbuhan tanpa kehilangan wajah kemanusiaannya?
Pertanyaan itu menjadi relevan saat Kota Surabaya memperingati Hari Jadi ke-733. Usia yang tidak lagi muda tersebut bukan sekadar penanda sejarah, melainkan momentum untuk membaca ulang arah pembangunan kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia itu.
Sebab, keberhasilan sebuah kota tidak hanya diukur dari gedung yang menjulang atau angka ekonomi yang meningkat, melainkan juga dari kemampuan menghadirkan kesejahteraan yang dirasakan secara merata oleh seluruh warganya.
Berbagai capaian yang dipaparkan Pemerintah Kota Surabaya menunjukkan fondasi pembangunan yang relatif kuat. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mencapai 85,65, tertinggi di Jawa Timur. Pertumbuhan ekonomi pada 2025 tercatat 5,87 persen dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai Rp830,54 triliun. Angka kemiskinan turun menjadi 3,56 persen, sementara inflasi tetap terkendali pada level 2,96 persen.
Di atas kertas, indikator tersebut menunjukkan Surabaya masih menjadi salah satu lokomotif ekonomi nasional. Namun, sebagaimana kota-kota besar di dunia, tantangan sesungguhnya justru muncul ketika keberhasilan pembangunan harus dipertahankan dalam jangka panjang.
Pembangunan manusia
Salah satu capaian yang patut mendapat perhatian adalah investasi Surabaya pada sektor manusia. Di tengah persaingan global yang semakin ketat, kualitas sumber daya manusia menjadi faktor pembeda utama antarwilayah.
Keberhasilan Surabaya menekan prevalensi stunting hingga 0,59 persen menunjukkan bahwa pembangunan tidak hanya berfokus pada aspek fisik. Upaya memperkuat layanan kesehatan melalui rumah sakit daerah, integrasi layanan primer hingga tingkat kelurahan, serta penguatan posyandu keluarga menjadi fondasi penting dalam membangun generasi yang lebih sehat.
Di bidang pendidikan, kebijakan memperluas akses pendidikan dan pemberian beasiswa bagi puluhan ribu siswa serta mahasiswa memperlihatkan kesadaran bahwa kemiskinan tidak bisa diputus hanya melalui bantuan sosial. Pendidikan tetap menjadi instrumen mobilitas sosial paling efektif.
Meski demikian, tantangan baru mulai terlihat. Kota-kota besar, saat ini tidak hanya dituntut menyediakan akses pendidikan, tetapi juga memastikan lulusannya memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri masa depan.
Transformasi digital, kecerdasan buatan, ekonomi hijau, dan industri kreatif sedang mengubah struktur pasar kerja secara cepat. Banyak pekerjaan lama akan berkurang, sementara profesi baru terus bermunculan. Dalam konteks ini, fokus Pemkot Surabaya untuk membuka akses pendidikan tinggi bagi anak-anak dari keluarga miskin menjadi langkah strategis.
Namun, akses saja belum cukup. Hal yang dibutuhkan adalah keterhubungan antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Kampus, sekolah vokasi, pelaku usaha, dan pemerintah perlu membangun ekosistem yang memungkinkan lulusan tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja.
Pengalaman sejumlah kota maju di Asia menunjukkan bahwa keberhasilan pembangunan manusia sangat ditentukan oleh kemampuan menghubungkan pendidikan, inovasi, dan kewirausahaan dalam satu rantai kebijakan yang saling mendukung.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.