Faktanya, laut tidak lagi dipandang semata-mata sebagai ruang perdagangan, melainkan juga ruang kompetisi strategis

Jakarta (ANTARA) - Dalam beberapa tahun terakhir, istilah Indo-Pasifik semakin kerap muncul dalam pidato politik sejumlah pemimpin negara, dokumen strategi pertahanan, hingga forum-forum keamanan internasional.

Indo-Pasifik merujuk kepada kawasan geopolitik yang membentang sangat luas, mulai dari pantai timur Afrika Selatan dan pesisir timur Afrika, melintasi Samudra Hindia, Asia Selatan, Asia Tenggara, hingga Samudra Pasifik bagian barat dan tengah.

Banyak pihak melihat kawasan Indo-Pasifik sebagai pusat gravitasi ekonomi dan geopolitik abad ke-21. Ini tidak mengherankan. Lebih dari separuh perdagangan dunia bergerak melalui jalur laut Indo-Pasifik. Sebagian besar energi yang menghidupi perekonomian Asia juga melintasi kawasan ini.

Di tengah lalu lintas global Indo-Pasifik, Indonesia menempati posisi yang sulit ditandingi negara lain. Indonesia berdiri tepat di persimpangan dua samudera dan dua benua, sebuah posisi yang selalu melahirkan peluang sekaligus tantangan.

Selat Malaka, misalnya, menjadi salah satu jalur pelayaran tersibuk di Indo-Pasifik. Setiap hari kapal-kapal yang membawa energi, bahan baku industri, hingga barang konsumsi bergerak melewati perairan yang berdekatan dengan wilayah Indonesia. Di sebelah selatan, terdapat Selat Sunda. Sedangkan lebih ke timur ada Selat Lombok dan Selat Makassar yang menjadi alternatif penting bagi kapal-kapal berukuran besar.

Jika jalur-jalur tersebut terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan Indonesia. Harga energi, rantai pasok, dan aktivitas perdagangan global dapat ikut terpengaruh.

Karena itu, ketika Presiden Prancis Emmanuel Macron, dalam pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Paris, belum lama ini, berbicara mengenai keamanan maritim Indo-Pasifik, isu yang dibahas sebenarnya jauh melampaui urusan kapal perang semata lantaran yang dipertaruhkan saat ini adalah juga stabilitas sistem ekonomi internasional.

Sejauh ini, kedudukan Indonesia cukup menarik karena tidak identik dengan salah satu blok kekuatan besar. Indonesia memiliki hubungan yang relatif baik dengan Amerika Serikat, China, Jepang, India, Australia, maupun negara-negara Eropa.

Kondisi tersebut memberikan ruang manuver diplomatik yang tidak selalu dimiliki negara lain. Indonesia tidak harus melihat setiap perkembangan kawasan melalui kacamata persaingan siapa menang dan siapa kalah. Ruang manuver seperti itu semakin relevan ketika rivalitas kekuatan besar menunjukkan kecenderungan meningkat. Faktanya, laut tidak lagi dipandang semata-mata sebagai ruang perdagangan, melainkan juga ruang kompetisi strategis.

Terkait hal tersebut, di satu sisi, Amerika Serikat dan sekutunya kerap berbicara mengenai kebebasan navigasi. Di sisi lain, China senantiasa menegaskan kepentingan keamanan dan klaim strategisnya sendiri.

Persoalannya, negara-negara di kawasan tidak selalu memiliki kepentingan yang sama dengan para pemain besar tersebut. Banyak negara lebih membutuhkan stabilitas dibandingkan polarisasi.

Kepentingan

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.