Jakarta (ANTARA) - Ruang tamu di Jalan Kertanegara 4, Kebayoran Baru, itu tertata rapi. Kursi-kursi disusun dengan jarak yang pas, seolah memberi ruang bagi percakapan untuk bernapas. Saya tiba di rumah itu, sebelum pukul sembilan pagi. Tak lama kemudian, seorang lelaki lanjut usia berjalan perlahan dengan tongkatnya. Berkacamata. Wajahnya tenang.

Sumitro Djojohadikusumo. Pagi itu ia mengenakan jas bertekstur kotak halus--mirip nailhead weave-- kemeja putih, dasi terikat rapi. Ada yang kuno dalam cara ia berpakaian: kerapihan dan disiplin diri. Sumitro memang necis.

Pagi itu, 29 Maret 1999. Ia menyambut saya hangat. Beberapa hari sebelumnya, sebuah fax tiba dari Sumitro -- undangan tak terduga setelah pertemuan singkat di halal bi halal LPEM-FEUI. Saya heran dan terkejut menerima undangannya. Saya hanya mahasiswa doktoral di ANU. Bukan siapa-siapa. Paling jauh, seseorang yang 'terkenal' di kalangan yang kenal.

Bagi kami, mahasiswa ekonomi, Sumitro adalah legenda: pendiri Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI), Begawan Ekonomi-- begitu orang menyebutnya-- pejuang, politikus, mantan menteri.

Percakapan mengalir, ringan namun padat. Ia menanyakan kemajuan disertasi saya, situasi ekonomi Indonesia kala itu, lalu meloncat-- tanpa transisi -- ke novel dan buku-buku karya sastrawan Prancis. Ketika sampai pada karya sastra Prancis, ia tersenyum, lalu bertanya:

"Do you speak French?"

Saya menggeleng.

"Oh, you’re not quite an intellectual yet."

Sumitro tertawa. Saya tahu ia berkelakar, tapi di balik kelakar itu saya menangkap betapa penting pengaruh Prancis dalam dirinya. Ia lalu berdiri, mengambil sebuah buku tipis berwarna biru dari rak: Reflections on André Malraux: by a distant admirer. Saya masih simpan buku itu, hingga kini.

Sumitro sangat mengagumi Malraux--contoh satunya kata dan perbuatan. Ia tak hanya berpikir; ia ikut perang saudara di Spanyol. Malraux tak hanya berpikir, ia terlibat langsung dalam perang saudara di Spanyol. Sumitro membandingkannya dengan Sartre. "Sartre berbicara tentang Spanyol di kafe-kafe Paris," katanya.

"Malraux ikut perang, memimpin skuadron udara untuk pasukan Republik." Inilah yang tampaknya memengaruhi Sumitro untuk juga menjadi man of action--seperti ketika ia bergabung dengan PRRI/Permesta.

Bagi Sumitro, ekonomi adalah alat membangun bangsa--sebuah cabang political economy: ilmu tentang kekuasaan, moral, dan pilihan manusia. Mungkin karena ia tak hanya belajar, tapi menyaksikan langsung penindasan kolonial dan ketimpangan di perdesaan Jawa.

Sumitro menyerap berbagai pemikiran, saat ia mengambil doktor ekonomi di Nederlandsch Economische Hoogeschool (NEH) di Rotterdam--dan dari tahun-tahunnya di Paris, saat mengambil diploma bidang sejarah dan filsasat di Sorbonne.

Di Rotterdam, ia masuk lebih jauh dalam tradisi ekonomi klasik dan modern. Namun, dari Karl Marx ia menyerap kesadaran tentang struktur dan ketimpangan; dari Joseph Schumpeter ia mendapatkan imajinasi tentang wirausaha sebagai motor inovasi dan perubahan sosial.

Pada tahap berikutnya, dari Frank Knight ia belajar bahwa ketidakpastian kebijakan pemerintah melahirkan "ekonomi biaya tinggi". Tetapi, yang paling membekas adalah Edward Chamberlin. Dari Theory of Monopolistic Competition, ia menemukan kosakata untuk apa yang sudah lama ia lihat-- dominasi Big Five Belanda atas perdagangan Hindia (Thee, 2005).

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.