Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Evita Nursanty mendorong Kementerian Ekonomi Kreatif untuk fokus memperkuat industri ekraf yang berorientasikan ekspor untuk meningkatkan kapasitas pelaku ekraf.
“Bapak fokus saja di industri. Industri yang nantinya tuh orientasinya ekspor kan ada, programmer, animator, film, games dan lain-lain,” kata Evita saat memimpin rapat kerja Komisi VII bersama Kementerian Ekonomi Kreatif di kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa.
Evita mengatakan Kemenekraf perlu memfokuskan program kementerian pada subsektor berbasis intellectual property seperti film, game, musik digital, aplikasi dan konten digital sebagai penggerak utama ekonomi kreatif yang bisa menambah nilai devisa negara secara berkelanjutan.
Baca juga: Menekraf nilai Waisak momentum perkuat ekosistem ekraf berbasis budaya
Baca juga: Kemenekraf petakan dukungan infrastruktur untuk aktivitas pelaku ekraf
Saat ini nilai ekonomi kreatif lebih dari Rp1.500 triliun dan telah memberikan kontribusi sebesar 7 persen terhadap PDB nasional serta menyerap tenaga kerja sebanyak 27 juta orang. Namun subsektor dengan kontribusi terbesar ada pada kuliner, kriya dan fesyen.
Ia juga mengatakan masa depan ekonomi kreatif di Indonesia saat ini harus berorientasi pada kreativitas, inovasi, teknologi dan kekayaan intelektual dan bukan lagi pada produk berbasis komunitas.
“Karena itu tantangan yang terbesar menurut saya dari kementerian ke depan, bukan sekedar meningkatkan jumlah program,” kata Evita.
Selain itu, ia juga mendorong Kementerian Ekraf untuk meningkatkan kesejahteraan pegiat ekonomi kreatif bukan hanya dari sisi keringanan pajak namun juga kepastian pendapatan dari usaha kreatif.
Menurutnya banyak pelaku ekraf yang hidup dari satu proyek ke proyek lain dan sering menghadapi pendapatan yang tidak pasti, perlindungan sosial yang minim, royalti yang tidak optimal serta akses pembiayaan yang terbatas.
“Itu masalah yang mereka hadapi, persoalan utama ekraf bukan hanya pajak tapi bagaimana kementerian ini menciptakan ekosistem yang membuat pelaku kreatif dapat hidup layak dari karya mereka,” katanya.
Evita mengatakan dengan memperhatikan aspek kesejahteraan pegiat ekraf dan menciptakan pekerjaan formal yang berkualitas, dapat melahirkan kekayaan intelektual kelas dunia yang menjadi motor ekspor baru Indonesia serta menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi menuju target Indonesia Emas 2045.
Baca juga: Menekraf lakukan pendekatan lintas sektor agar KI jadi aset ekonomi
Baca juga: Menekraf usul tambahan anggaran Rp937 miliar untuk program ekraf
Baca juga: Kementerian Ekraf bahas penerapan PPh Final UMKM bersama asosiasi
Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.