Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis mata lulusan Universitas Padjadjaran dr. Tri Wahyu Sp.M, mengajak orang tua untuk mewaspadai gangguan pada kelopak mata anak sejak anak lahir agar anak bisa mendapat perawatan yang dibutuhkan.
Saat diskusi bersama wartawan di Jakarta, Rabu, Tri menjelaskan gangguan kelopak mata pada anak bisa muncul sejak dari lahir atau kongenital yang seringkali tidak disadari orang tua dan dibiarkan sampai anak tumbuh besar.
"Karena banyak kasus kelainan kelopak mata yang sebenarnya muncul sejak dari lahir, tapi, orang tua tidak mengenal ini adalah suatu kelainan sehingga dibiarkan saja sampai anak tumbuh besar dengan kelainan tersebut," kata Tri.
Baca juga: Waspadai gejala tumor kelopak mata yang mirip bintitan
Gangguan kelopak mata bawaan sejak lahir ada empat macam, yang pertama dan yang sering terjadi adalah blepharophimosis yang merupakan kondisi abnormal dengan mata kecil akibat mutasi gen yang menyebabkan kelopak mata menjadi lebih kecil dan tidak terbuka lebar.
Blepharophimosis memiliki kombinasi gejala pertumbuhan kelopak mata atas dan bawah yang letaknya berdekatan atau fimosis, kelopak mata atas turun atau ptosis, dan sudut mata tidak terlihat karena ada lipatan kulit dari arah hidung atau Epicanthus Inversus Syndrome.
Gangguan kelopak mata kedua, anak pada usia 6 tahun sampai remaja seringkali didiagnosis epiblefaron yang ciri khasnya berupa kulit kelopak mata berlebih disertai dengan kelopak mata membesar sehingga mendorong bulu mata menggesek permukaan bola mata. Efeknya bisa membuat mata anak merah atau berair.
"Ini memang sering pada ras-ras Asia Timur, walaupun non Asia Timur juga ada. Berat badan juga berpengaruh karena memang anak-anak terutama yang obesitas, berisiko tinggi untuk mengalami Epiblepharon," kata Tri menjelaskan.
Ketiga, kasus ptosis atau kondisi kelopak mata yang menghalangi sampai pupil mata bisa mengancam fungsi penglihatan anak atau mata malas meskipun telah dilakukan pemeriksaan kacamata. Kasus ini paling sering tidak disadari orang tua karena bayi sejak lahir tidak sering membuka mata, dan baru disadari setelah anak berusia 2-3 tahun saat perkembangan tengkoraknya mulai terlihat.
Ptosis bisa menyebabkan mata anak mengalami silinder karena kelopak mata menekan kornea atau kubah di atas bola mata.
Kasus gangguan kelopak mata dari lahir yang keempat adalah koloboma yang dapat disertai dengan kerusakan iris, lensa, koroid hingga saraf optik.
Tri mengatakan gangguan kelopak mata pada anak tidak melulu ditangani dengan operasi langsung, biasanya dokter akan melakukan observasi seiring dengan pertumbuhan tengkorak. Jika sudah mengancam penglihatan dan perkembangan saraf mata serta bersifat iritatif, dokter akan menyarankan untuk segera melakukan operasi untuk mengoreksi kelopak mata yang turun atau mengangkat kelopak mata yang melipat ke arah dalam.
Pada kasus ptosis, dokter akan menunggu hingga anak berusia 3-4 tahun untuk menunggu kelopak yang masih bisa tumbuh sehingga dokter bisa melakukan operasi untuk mengangkat kelopak mata.
Baca juga: Kenali xanthelasma, bercak di kelopak mata karena kolesterol
Baca juga: Dokter: Menatap layar ponsel terlalu lama bisa merusak jaringan mata
Baca juga: Katarak juga bisa muncul pada usia muda, waspadai pemicunya
Baca juga: Penggunaan obat tetes mata bersteroid bisa memicu katarak
Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.