Evaluasi terhadap ribuan SPPG serta pergantian pimpinan BGN menunjukkan bahwa pemerintah menempatkan aspek tata kelola, disiplin operasional, dan standar mutu sebagai fokus utama dalam fase berikutnya pelaksanaan program MBG.
Jakarta (ANTARA) - Perombakan pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) oleh Presiden Prabowo Subianto menandai fase baru dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu program prioritas pemerintah yang sejak awal dirancang sebagai instrumen pembangunan sumber daya manusia sekaligus penggerak ekonomi daerah.
Pergantian tidak hanya terjadi pada posisi kepala BGN, tetapi juga termasuk dua wakilnya. Dadan Hindayana, yang sebelumnya memimpin BGN, digantikan oleh Nanik Sudaryati Deyang. Sementara itu, dua wakil kepala BGN sebelumnya, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya, diganti oleh Agustina Arumsari serta Mayjen TNI Trenggono.
Perubahan pada level tertinggi organisasi ini dilakukan setelah pemerintah melakukan pemantauan dan evaluasi selama sekitar satu setengah tahun sejak program MBG bergulir. Rentang waktu tersebut dinilai cukup untuk memetakan capaian, hambatan, serta berbagai persoalan yang muncul dalam pelaksanaan program di lapangan.
MBG sejak awal bukan program dengan skala kecil. Sasarannya mencakup siswa sekolah, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Luasnya cakupan penerima manfaat membuat keberhasilan program sangat bergantung pada kemampuan organisasi dalam menjaga standar operasional, pengawasan mutu, tata kelola distribusi, serta koordinasi lintas daerah.
Dalam evaluasi pemerintah, terdapat sejumlah catatan yang menjadi dasar perombakan kepemimpinan BGN. Catatan tersebut berkaitan dengan kedisiplinan dalam menjalankan standar prosedur operasional (SOP), kedisiplinan tata kelola organisasi, serta konsistensi menjaga kualitas makanan sesuai standar yang telah ditetapkan.
Aspek kualitas menjadi titik paling krusial dalam program MBG. Kinerja program dengan anggaran jumbo ini tidak hanya diukur dari volume distribusi makanan, melainkan pada substansi program itu sendiri: keamanan pangan, kandungan gizi, kebersihan proses produksi, hingga ketepatan distribusi. Kegagalan pada salah satu aspek tersebut dapat langsung berdampak pada kesehatan penerima manfaat dan erosi kepercayaan publik terhadap program.
Tanda-tanda evaluasi ketat terhadap pelaksanaan MBG sebenarnya telah terlihat jauh sebelum pengumuman perombakan pimpinan BGN. Indikator paling nyata adalah kebijakan penghentian sementara (suspend) terhadap ribuan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berfungsi sebagai dapur operasional program.
Berdasarkan data BGN per 29 Mei 2026, tercatat sebanyak 8.182 SPPG pernah dikenai sanksi suspend sejak program MBG diluncurkan pada Januari 2025. Dari jumlah tersebut, 5.659 unit telah kembali beroperasi setelah memenuhi standar persyaratan, sementara 2.213 unit lainnya masih berstatus suspend karena belum menyelesaikan perbaikan teknis maupun manajerial.
Angka tersebut menunjukkan dua hal sekaligus. Pertama, skala pengawasan yang dilakukan pemerintah terhadap pelaksanaan program cukup besar. Kedua, masih terdapat tantangan signifikan dalam proses standardisasi dapur MBG di berbagai daerah.
Baca juga: Istana sebut pergantian pimpinan BGN perkuat layanan program MBG
Baca juga: Profil Kepala Badan Gizi Nasional Nanik Sudaryati Deyang
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.