Untuk 2027, perkiraan kami ICP sebesar 80 dolar AS per barel

Jakarta (ANTARA) - Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto memproyeksikan rata-rata harga Minyak Mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) pada 2027 berada di level 80 dolar AS per barel.

“Untuk 2027, perkiraan kami ICP sebesar 80 dolar AS per barel,” ujar Djoko Siswanto dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Rabu.

Angka tersebut lebih tinggi 10 dolar AS per barel apabila dibandingkan dengan ICP yang termaktub dalam asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, yakni sebesar 70 dolar AS per barel.

Akibat perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran, rata-rata ICP dari Januari 2026 hingga Mei 2026 menyentuh 86 dolar AS per barel.

Meskipun demikian, Djoko menyampaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar tidak naik hingga akhir tahun 2026, sebab rata-rata ICP belum mencapai 100 dolar AS per barel.

Baca juga: SKK Migas: Produksi gas capai 95 persen dari target APBN

Baca juga: SKK Migas segera lelang hasil studi bersama Shell di 5 blok migas RI

“Untuk ICP, realisasi 2026 sampai dengan bulan Mei 86 dolar AS per barel. Nah, ini yang menyebabkan harga Pertalite dan solar subsidi tetap tidak naik sampai akhir tahun, karena targetnya, dananya cukup apabila ICP tidak mencapai 100,” kata Djoksis, sapaan akrab Djoko Siswanto.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pada April 2026 sebesar 117,31 dolar AS per barel.

Harga tersebut melonjak 15,05 dolar AS dibandingkan Maret 2026 yang tercatat 102,26 dolar AS per barel.

Menurut Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman, berbagai perkembangan sepanjang April 2026 turut memberikan tekanan terhadap pasar minyak dunia, mulai dari gejolak Selat Hormuz, blokade pelabuhan Iran oleh Amerika Serikat, hingga serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah.

Kondisi tersebut mendorong meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global.

Selain faktor geopolitik, pertumbuhan ekonomi China pada triwulan I 2026 yang mencapai 5 persen secara tahunan turut memberikan sentimen positif terhadap permintaan minyak dunia.

Baca juga: SKK Migas bidik produksi minyak sumur rakyat 2 ribu bph pada Juli 2026

Baca juga: Realisasi produksi minyak, kondensat, dan NGL tercatat 576,2 MBOPD

Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.