Doha (ANTARA) - Lebih dari 60 orang terluka di Kuwait akibat serangan roket dan pesawat nirawak (drone) Iran, termasuk para penumpang dan staf bandara, kata Juru Bicara Kementerian Kesehatan Kuwait, Abdullah Al-Sanad, pada Rabu.
"Sejak jam-jam pertama serangan Iran terhadap Kuwait, sistem pelayanan kesehatan telah dimobilisasi sepenuhnya. Sebanyak 63 korban luka telah dilarikan ke rumah sakit dan tujuh operasi darurat telah dilakukan," kata Al-Sanad.
Ia menambahkan para korban luka mencakup penumpang serta staf bandara dengan kondisi cedera yang bervariasi, mulai dari patah tulang, trauma kepala, hingga luka bakar.
Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan telah meluncurkan serangan balasan terhadap target-target militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
Kementerian Luar Negeri Iran kemudian mengeklaim serangan terhadap Pulau Qeshm diluncurkan dari negara-negara di kawasan tersebut dan menyatakan Kuwait sebagai salah satu pihak yang bertanggung jawab.
Baca juga: Iran kecam serangan AS di Pulau Qeshm, tegaskan hak untuk membela diri
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Kuwait menyatakan pihaknya telah menghalau serangan drone dan rudal tersebut.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan rudal-rudal Iran diluncurkan ke arah Kuwait dan Bahrain, namun telah dicegat atau jatuh sebelum mencapai target.
CENTCOM juga menambahkan bahwa mereka menembak jatuh beberapa drone dan mencegah adanya korban maupun kerusakan pada personel dan fasilitas AS.
Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban jiwa dari kalangan sipil. Iran membalasnya dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Pada 7 April, Washington dan Teheran sempat mengumumkan gencatan senjata. Namun, pembicaraan lanjutan yang digelar di Islamabad berakhir tanpa membuahkan hasil.
Sumber: Sputnik/Ria Novosti
Baca juga: Kuwait kecam serangan Iran, tegaskan hak untuk merespons
Penerjemah: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.