Surabaya (ANTARA) - Di sebuah ruang kelas sederhana di Kecamatan Pakal, Kota Surabaya, tawa anak-anak sesekali pecah di antara lantunan kata berbahasa Inggris yang masih patah-patah. Mereka menirukan sapaan dasar, menyebut warna, atau sekadar berani mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan ringan.

Di luar ruang itu, kehidupan kampung berjalan seperti biasa, namun di dalamnya sedang tumbuh sesuatu yang pelan-pelan membentuk arah baru pendidikan dasar, yakni keyakinan bahwa bahasa global tidak harus dimulai dari ruang kursus berbayar.

Program Rumah Inggris Ceria dan Hebat atau RICH yang digagas pemerintah kecamatan bersama Bunda PAUD di Surabaya itu menjadi salah satu eksperimen sosial pendidikan yang menarik untuk dibaca lebih jauh. Ia tidak hanya hadir sebagai kelas bahasa Inggris gratis, tetapi juga sebagai respons atas kesenjangan akses pembelajaran tambahan yang selama ini tidak merata.

Antusiasme ratusan orang tua yang berebut kuota, hingga muncul daftar tunggu, memperlihatkan satu hal penting bahwa kebutuhan itu nyata, dan selama ini belum sepenuhnya terjawab oleh sistem yang ada.


Akses merata

Fenomena RICH di Pakal membuka kembali perbincangan lama tentang ketimpangan akses pendidikan nonformal. Di banyak wilayah perkotaan, kursus bahasa Inggris masih identik dengan biaya tambahan yang tidak kecil bagi keluarga.

Sementara itu, kemampuan bahasa asing telah menjadi salah satu modal penting dalam ekosistem pendidikan modern, bahkan sejak usia sekolah dasar.

RICH mencoba memotong sekat itu dengan menghadirkan kelas gratis yang menyasar anak usia empat hingga sembilan tahun. Kelompok usia ini berada pada fase perkembangan bahasa yang sangat cepat, ketika penyerapan kosakata dan pelafalan berlangsung lebih alami.

Dalam konteks ini, program semacam RICH tidak sekadar mengajarkan bahasa, tetapi juga membuka pintu kesempatan yang sebelumnya hanya dapat diakses sebagian anak.

Namun, di balik keberhasilan menjaring peserta, muncul pertanyaan yang lebih dalam tentang pemerataan. Jika satu kecamatan saja mampu menciptakan antusiasme setinggi itu, bagaimana dengan wilayah lain yang memiliki kondisi sosial ekonomi serupa atau bahkan lebih beragam.

Di sinilah RICH menjadi cermin kecil dari kebutuhan besar yang belum sepenuhnya terstruktur dalam kebijakan pendidikan nonformal daerah.

Keterlibatan perguruan tinggi, seperti Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melalui para mentor, juga memperlihatkan model kolaborasi yang potensial. Namun, ketergantungan pada relawan atau tenaga akademik tertentu juga menyimpan tantangan keberlanjutan apabila program ingin diperluas secara sistematis ke tingkat kota atau bahkan provinsi.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.