Jakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan pendampingan secara langsung dalam proyek rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab-rekon) pascabencana di sejumlah wilayah terdampak di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani saat ditemui di Gedung ANTARA Heritage Center, Jakarta, Kamis, mengatakan bahwa intervensi tersebut bertujuan untuk menopang ketahanan infrastruktur serta menjamin keamanan lokasi pembangunan dari potensi risiko bencana di masa depan.

"BMKG di bawah koordinasi dari Bapak Mendagri itu juga men-support secara langsung pelaksanaan pembangunan rehab-rekon yang ada di Aceh, Sumut, dan Sumatera Barat," kata dia.

Fathani menjelaskan bahwa salah satu fokus pendampingan diformulasikan melalui pendirian posko khusus di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) untuk mengawal blueprint kelayakan geografis proyek hunian tetap (huntap) bagi para penyintas.

Langkah taktis tersebut diambil guna memastikan wilayah yang menjadi target pembangunan huntap maupun relokasi pemukiman baru terbebas dari kerawanan bencana hidrometeorologi basah, seperti banjir bandang dan tanah longsor.

Selain aspek mitigasi bencana, posko terpadu BMKG juga bertugas melakukan pemantauan cuaca dan analisis iklim secara berkala agar proses mobilisasi material dan pengerjaan konstruksi di lapangan tidak mengalami kendala.

Keterlibatan BMKG juga menyasar pada sektor pemulihan ekonomi masyarakat melalui penyediaan basis data iklim untuk pembukaan lahan pertanian baru bagi warga yang direlokasi.

Menurut Fathani intervensi sekunder tersebut diberikan untuk memetakan varietas tanaman yang paling cocok dengan karakteristik iklim setempat, sehingga proses pemindahan tempat tinggal sekaligus pemulihan mata pencaharian warga terdampak dapat berjalan beriringan.

Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025 tercatat sebagai salah satu bencana hidrometeorologi paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir.

Baca juga: TNI kembali rampungkan jembatan armco untuk warga Bireuen, Aceh

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dihimpun hingga Desember 2025 mencatat sekitar 990 korban meninggal dunia, 222 orang hilang, lebih dari 5.400 orang luka-luka, sekitar 157.800 rumah mengalami kerusakan, serta 3.222 fasilitas dan infrastruktur publik terdampak.

Data-data tersebut menunjukkan bahwa fase tanggap darurat telah beralih menuju rehabilitasi dan rekonstruksi jangka panjang, dengan fokus utama pemerintah saat ini pada penyelesaian hunian tetap, pemulihan layanan dasar, serta pemulihan ekonomi masyarakat terdampak di tiga provinsi tersebut.

Sebagaimana data terbaru Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera hingga pertengahan Mei 2026, proses pemulihan pascabanjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terus menunjukkan kemajuan, terutama pada sektor penyediaan hunian bagi penyintas.

Untuk hunian sementara (huntara), Satgas PRR mencatat sebanyak 19.312 unit telah selesai dibangun dari target 20.338 unit atau sekitar 95 persen. Sebelumnya pada Maret 2026, capaian pembangunan huntara baru mencapai 15.346 unit atau 81 persen dari target. Sebagian besar huntara tersebut diperuntukkan bagi penyintas yang rumahnya rusak berat dan masih menunggu proses pembangunan hunian tetap (huntap).

Pada sektor hunian tetap, progresnya masih berada pada tahap awal. Dari komitmen pembangunan 39.335 unit huntap yang melibatkan BNPB, Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman, Polri, Baznas, Danantara, sektor usaha, dan berbagai lembaga lainnya, sebanyak 357 unit telah selesai dibangun dan 996 unit masih dalam proses konstruksi. Sementara lebih dari 37 ribu unit lainnya masih berada pada tahap perencanaan dan persiapan lahan.

Satgas PRR juga melaporkan jumlah pengungsi terus menurun signifikan. Pada awal bencana, jumlah warga terdampak dan mengungsi mencapai lebih dari dua juta jiwa. Namun hingga Mei 2026 tidak ada lagi yang menempati pengungsian dan sebagian besar sudah kembali ke rumah yang aman, menempati huntara, atau direlokasi ke lokasi yang telah disiapkan pemerintah.

Baca juga: Satgas PRR tuntaskan pembangunan huntara di Sumut dan Sumbar

Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.