Jakarta (ANTARA) - Direktur Cyber Intelligence PT Spentera Royke L. Tobing mengatakan dukungan pemerintah diperlukan untuk memperkuat kemandirian teknologi di bidang keamanan siber buatan lokal dan memperluas penyebaran inovasi industri kreatif bidang keamanan siber.

"Kami berharap ini bisa menginisiasi percikan agar orang-orang lain juga 'ayo bikin', biar kita mandiri secara teknologi, jangan kita jadi net importer," kata Royke dalam konferensi pers peluncuran keamanan siber berbasis AI Wolvesight di Jakarta, Kamis.

Dia juga mengatakan kehadiran dukungan pemerintah bisa membangkitkan industri kreatif bidang keamanan siber agar tidak terus memakai produk luar negeri. Menurut dia, sudah saatnya Indonesia memiliki produk keamanan siber sendiri, terutama yang bisa dijangkau oleh usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).​​​​​​​

Baca juga: Pemerintah perkuat keamanan siber nasional hadapi lonjakan serangan

Berkaitan dengan Wolvesight, perangkat lunak tersebut memberikan inovasi keamanan siber dengan metode hacking yang bisa menembus sistem operasi bisnis sebuah perusahaan.

Royke mengatakan semakin dalam hacking yang dilakukan maka semakin banyak masalah dalam sistem operasi yang bisa dibenahi dan meningkatkan keamanan transaksi dari perusahaan tersebut. Kehadiran perangkat tersebut diharapkan bisa meminimalisir perusahaan lokal memakai produk luar negeri yang mungkin saja membawa data-data rahasia perusahaan ke luar.

Baca juga: OpenAI luncurkan inisiatif keamanan siber Daybreak

Baca juga: VIDA luncurkan teknologi deteksi penipuan daring ID FraudShield

Baca juga: Kiat praktis bagi pemilik bisnis miliki ketahanan siber ​​​​​​​

Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.