Moskow (ANTARA) -

Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) menghadapi tekanan untuk menanggung biaya yang timbul akibat operasi militer di Iran dan sejumlah penugasan tak terduga lainnya, lapor Fox News dengan mengutip pejabat militer AS.

Sejumlah operasi tersebut tidak masuk dalam perencanaan anggaran tahun fiskal 2026, sehingga menambah beban sumber daya Pentagon dan memaksa pimpinan militer AS mengambil keputusan sulit terkait pengeluaran.

Operasi yang tidak direncanakan itu mencakup Operation Epic Fury (operasi Epic Fury) di Iran, misi pengamanan perbatasan selatan, serta penugasan Garda Nasional.

Tekanan keuangan tersebut semakin berat akibat kenaikan harga bahan bakar.

Kepala Operasi Angkatan Laut AS, Laksamana Daryl Caudle, mengatakan kepada Komite Angkatan Bersenjata Dewan Perwakilan Rakyat AS pada Mei bahwa Angkatan Laut perlu mengurangi biaya operasi rutin apabila tidak memperoleh pendanaan tambahan.

Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel mulai melancarkan serangan bersama terhadap sejumlah target di Iran yang mengakibatkan lebih dari 3.000 korban.

Pada 8 April, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan. Setelah masa gencatan senjata berakhir, tidak ada laporan mengenai dimulainya kembali permusuhan secara luas, namun Amerika Serikat mulai memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Saat ini, Iran dan Amerika Serikat tengah melakukan perundingan untuk menyepakati kerangka nota kesepahaman. Sementara itu, kedua pihak masih terus melakukan serangan sporadis.

Amerika Serikat menyatakan bahwa penggunaan kekuatan militer diperlukan untuk mempertahankan blokade tersebut dan menjalankan haknya atas “pembelaan diri.”

Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA

Baca juga: Pelacak data: Biaya perang AS di Iran lampaui 100 miliar dolar

Baca juga: Menlu Iran: Pentagon "berbohong", biaya perang AS 100 miliar dolar

Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.