Jakarta (ANTARA) - Rumah Sakit Kanker Dharmais menyatakan teknologi Next Generation Sequencing (NGS) dapat membantu dokter menentukan terapi kanker yang lebih tepat dan personal melalui identifikasi biomarker serta profil genetik tumor pasien.

Dokter spesialis patologi klinik konsultan onkologi Rumah Sakit Kanker Dharmais dr. Christine Sugiarto, Sp.PK(K), Subsp.Onk., saat konferensi pers di Jakarta, Kamis, mengatakan pendekatan pengobatan kanker saat ini telah bergeser dari metode yang sama untuk semua pasien menjadi berbasis biomarker karena setiap pasien dapat memiliki respons terapi yang berbeda meski didiagnosis dengan jenis kanker yang sama.

"Pasien dengan diagnosis kanker yang sama bisa mendapatkan hasil terapi yang berbeda. Ada yang responsnya baik, ada yang tidak merespons, bahkan ada yang mengalami perburukan. Karena itu pendekatan pengobatan saat ini bergeser menjadi berbasis biomarker," kata Christine.

Baca juga: RS Kanker Dharmais terapkan NGS untuk dukung diagnostik presisi

Sel kanker memiliki perubahan genetik yang berbeda dengan sel normal. Perubahan tersebut dapat memengaruhi pertumbuhan kanker, penyebaran penyakit, hingga respons pasien terhadap pengobatan.

Pemeriksaan biomarker diperlukan untuk mengidentifikasi perubahan genetik pada sel kanker sehingga dapat membantu dokter menentukan terapi yang sesuai dengan karakteristik penyakit masing-masing pasien. Christine mengatakan pemeriksaan genetik sebenarnya telah lama digunakan dalam penanganan kanker, namun, sebelumnya pemeriksaan dilakukan secara terpisah untuk setiap gen yang ingin dianalisis.

Melalui teknologi NGS, berbagai gen dapat diperiksa secara bersamaan dalam satu kali pengujian sehingga proses diagnosis menjadi lebih efisien dibandingkan metode konvensional.

"Dengan satu sampel dan satu panel, banyak gen dapat diperiksa sekaligus. Ini membuat pengambilan keputusan terapi menjadi lebih cepat dengan kebutuhan sampel yang lebih sedikit," ujar dia

RS Kanker Dharmais kini menggunakan panel mutasi genetik onkologi presisi yang mampu mengidentifikasi biomarker pada berbagai jenis kanker, termasuk kanker payudara dan kanker paru. Panel tersebut mencakup sekitar 45 gen yang relevan untuk mendukung pemeriksaan molekuler kanker.

Menurut Christine, penggunaan sistem otomatis dari awal hingga akhir proses pemeriksaan juga membantu memangkas waktu analisis yang sebelumnya dapat berlangsung hingga berminggu-minggu.

"Saat ini pemeriksaan dapat diselesaikan maksimal dalam 10 hari dan hasilnya dapat segera dimanfaatkan dokter untuk menentukan pilihan terapi pasien," kata dia.

Pemeriksaan NGS dapat dilakukan menggunakan sampel jaringan tumor maupun darah melalui metode liquid biopsy.

Christine menegaskan bahwa pengobatan presisi tidak dapat dipisahkan dari diagnostik presisi karena pemahaman terhadap profil genetik kanker menjadi dasar dalam menentukan terapi yang tepat bagi pasien.

Baca juga: Peneliti Australia ungkap alasan beberapa bagian otak rentan tumor

Baca juga: Alat skrining AI bantu ahli patologi temukan kanker tersembunyi

Baca juga: Pentingnya edukasi dalam tingkatkan kepatuhan berobat pasien kanker

Baca juga: Kebiasaan yang mesti dihentikan untuk mengurangi risiko kanker mulut

Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.