Melalui analisis biaya dan manfaat, solusi lokal ini menawarkan harga operasional yang lebih murah dibandingkan produk luar negeri
Jakarta (ANTARA) - Tenaga Ahli Menteri ESDM Satya Hangga Yudha Widya Putra mendukung penuh penerapan teknologi akal imitasi (artificial intelligence/AI) buatan anak bangsa, AssistX untuk mengawal digitalisasi hulu migas.
Menurut Hangga, dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, inovasi komprehensif ini merupakan buatan anak bangsa dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) mencapai 91 persen.
"Melalui analisis biaya dan manfaat, solusi lokal ini menawarkan harga operasional yang lebih murah dibandingkan produk luar negeri," katanya saat mengunjungi Kantor AssistX di Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Menurut dia, penerapan AI menjadi krusial di tengah tantangan hulu migas, yang mana produksi minyak bumi Indonesia saat ini berada di kisaran 600.000 barel per hari, sementara konsumsi mencapai 1,6 juta barel per hari atau masih impor sebesar 1 juta barel per hari.
Sebaliknya, sektor gas nasional mengalami surplus dengan produksi 6.500 MMSCFD dan konsumsi domestik 4.500 MMSCFD, meskipun masih menghadapi kekurangan LPG impor sebesar 80 persen.
Hangga melanjutkan guna mencapai target ketahanan energi dan hilirisasi dalam Astacita nomor 2 dan nomor 5, adopsi sistem pengawasan cerdas dengan akal imitasi ini menjadi komponen penting untuk monitoring lapangan yang cepat dan terpusat.
Teknologi ini telah diterapkan di Pertamina EP Donggi Matindo Field.
Keunggulan utama AssistX terletak pada teknologi kompresi data mutakhir yang mampu mereduksi ukuran file dokumen, rekaman CCTV, dan penggunaan bandwidth hingga 90 persen tanpa mengurangi kualitas resolusi visual.
Dengan fitur pemanfaatan server lokal, kedaulatan data strategis nasional dapat terjaga ketat di dalam negeri dari akses pihak luar.
Pengawasan ini juga dapat diaplikasikan pada kamera CCTV eksisting tanpa perlu mengganti perangkat keras, sehingga jauh lebih efisien dari segi pengeluaran modal bagi perusahaan swasta maupun K3S.
Dari segi keselamatan kerja, sistem ini juga mampu mendeteksi pelanggaran secara otomatis, seperti pekerja yang tidak mengenakan helm atau sarung tangan keselamatan, mendeteksi penyusupan manusia, melacak armada kendaraan, hingga mencatat durasi sandar kapal tanker di dermaga.
Selain itu, sistem dashboard mengintegrasikan sensor internet of things (IoT) untuk mendeteksi ancaman kebakaran serta kebocoran gas yang tidak tertangkap oleh visual kamera biasa, sehingga insiden di lapangan dapat dicegah secara dini.
Baca juga: KESDM catat komitmen TKDN hulu migas capai 1,5 miliar dolar AS
Baca juga: Menteri ESDM: Hulu migas dikecualikan dari PP Tata Kelola Ekspor
Pewarta: Kelik Dewanto
Editor: Ahmad Wijaya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.