Melalui pengolahan menjadi pupuk kompos, limbah organik dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung kegiatan penghijauan, pembibitan, dan pemeliharaan tanaman
Banjarbaru (ANTARA) - Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) mengurangi timbulan sampah organik melalui inovasi pupuk Komposnya Forester yang diproduksi dari pengolahan limbah dedaunan perkantoran untuk mendukung penghijauan dan rehabilitasi lahan secara berkelanjutan.
Kepala Dishut Kalsel Fathimatuzzahra di Banjarbaru, Jumat, mengatakan pemanfaatan limbah organik menjadi pupuk kompos merupakan bentuk penerapan ekonomi sirkular dengan mengubah sampah menjadi sumber daya yang bermanfaat bagi kegiatan pembibitan, penghijauan, dan pemeliharaan tanaman.
“Daun-daun yang gugur di lingkungan kantor merupakan sumber bahan organik yang sangat potensial. Melalui pengolahan menjadi pupuk kompos, limbah organik dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung kegiatan penghijauan, pembibitan, dan pemeliharaan tanaman,” ujarnya.
Ia menjelaskan seluruh dedaunan yang terkumpul dari lingkungan perkantoran dipilah dan dikirim ke rumah produksi kompos di Taman Hutan Hujan Tropis Indonesia (TH2TI) Banjarbaru untuk diolah melalui sejumlah tahapan hingga menjadi pupuk kompos siap pakai.
Baca juga: KLH: Dua kabupaten di Kalsel butuh pendekatan khusus kelola sampah
Menurut dia, pupuk kompos tersebut dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan kehutanan, rehabilitasi lahan, penghijauan, serta pemeliharaan ruang terbuka hijau, sehingga limbah organik yang sebelumnya tidak termanfaatkan dapat memberikan nilai tambah bagi lingkungan.
Dishut Kalsel melalui TH2TI mengembangkan produk Komposnya Forester sebagai upaya mendorong pengelolaan limbah yang lebih produktif dan ramah lingkungan dengan memanfaatkan sampah organik, terutama dedaunan, sebagai bahan baku utama.
Kegiatan pengolahan dedaunan menjadi kompos tersebut dilaksanakan bersamaan dengan aksi bersih lingkungan yang diikuti seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) Dishut Kalsel dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 dan mendukung gerakan pelestarian lingkungan di Kalsel.
Melalui inovasi itu Dishut Kalsel berupaya menekan volume sampah organik dari aktivitas perkantoran, sekaligus meningkatkan kesadaran pemanfaatan kembali limbah sebagai sumber daya yang memiliki manfaat lingkungan dan nilai ekonomi.
Baca juga: KLH dorong PSEL sampah masuk dokumen rencana pembangunan daerah
Baca juga: KLH: Aglomerasi Banjarmasin Raya jadi strategi atasi sampah di Kalsel
Pewarta: Tumpal Andani Aritonang
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.