Program MBG turut meningkatkan serapan hasil pertanian, peternakan dan perikanan sehingga membuka peluang pasar yang lebih luas bagi petani dan pelaku usaha pangan lokal
Jakarta (ANTARA) - Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membantu perbaikan gizi masyarakat sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani dan membuka peluang ekonomi baru di berbagai daerah.
Ketua Harian HKTI Bachtiar Utomo mengatakan Program MBG memiliki dampak langsung terhadap kualitas sumber daya manusia sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Program Makan Bergizi Gratis sangat baik untuk membantu pemenuhan kebutuhan gizi anak-anak sekolah. Program ini juga mendukung ibu hamil dan balita sehingga dapat membantu menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat,” kata Bachtiar dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Jumat.
Menurut dia, kebutuhan bahan pangan untuk mendukung Program MBG turut meningkatkan serapan hasil pertanian, peternakan dan perikanan sehingga membuka peluang pasar yang lebih luas bagi petani dan pelaku usaha pangan lokal.
“Semakin tinggi kebutuhan pangan untuk Program MBG, semakin besar pula hasil produksi petani yang terserap. Dampaknya tentu sangat positif terhadap pendapatan dan kesejahteraan petani,” ujarnya.
Selain meningkatkan serapan hasil pertanian, program MBG juga dinilai berpotensi menciptakan lapangan kerja baru melalui aktivitas penyediaan bahan pangan, pengolahan makanan, distribusi, hingga operasional dapur.
Baca juga: Kementan dan HKTI salurkan 49 ekor hewan kurban Idul Adha 1447 H
Baca juga: Wamentan minta HKTI kawal program pertanian hingga ke petani
Badan Gizi Nasional (BGN) melaporkan hingga 22 Mei 2026 Program MBG telah menyerap sekitar 1,28 juta pekerja melalui operasional 29.225 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah.
Program tersebut juga tercatat melibatkan 142.387 pemasok. Dari jumlah itu, sebanyak 59.921 merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), 13.306 koperasi, 690 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), 1.410 Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), serta 157 Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDesma).
Adapun 66.903 pemasok lainnya berasal dari berbagai penyedia bahan pangan dan jasa pendukung lainnya.
Menurut Bachtiar, Program MBG memberikan dampak berganda terhadap perekonomian daerah karena melibatkan petani, peternak, nelayan, UMKM, hingga pelaku usaha jasa dalam rantai pasok pangan nasional.
“Program ini tidak hanya memberikan makanan bergizi kepada masyarakat, tetapi juga menggerakkan ekonomi daerah. Ada petani yang hasil panennya terserap, UMKM yang berkembang dan lapangan kerja yang tercipta,” ucap dia.
Lebih lanjut, HKTI meyakini Program MBG dapat menjadi salah satu instrumen penting dalam membangun generasi Indonesia yang sehat dan kuat sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional dan perekonomian daerah.
“Anak-anak mendapatkan gizi yang baik, petani semakin sejahtera, ekonomi daerah bergerak dan pada akhirnya ketahanan pangan nasional semakin kuat,” tutur Bachtiar.
Baca juga: HKTI: Kondisi lapangan buktikan stok beras melimpah, swasembada kuat
Baca juga: HKTI: Generasi muda kunci ketahanan pangan nasional
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.