Program Cetak Sawah berbasis komunitas diarahkan untuk menciptakan lahan produktif baru secara berkelanjutan

Banjarbaru (ANTARA) - Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan Program Cetak Sawah berbasis komunitas yang telah digulirkan menjadi instrumen pengembangan lahan pertanian baru yang tidak hanya mendukung ketahanan pangan, tetapi untuk meningkatkan ekonomi masyarakat.

Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementan Hermanto menjelaskan peningkatan ekonomi petani didorong melalui pembukaan lahan pertanian baru yang memberikan peluang produksi dan pendapatan tambahan bagi masyarakat, serta penguatan kelembagaan ekonomi petani agar nilai tambah hasil pertanian tetap berputar di tingkat lokal.

“Program tersebut dirancang untuk membuka lahan pertanian baru pada lahan tidur maupun kawasan rawa yang berpotensi dikembangkan menjadi areal produksi pangan dengan melibatkan masyarakat, kelompok tani, dan komunitas lokal sebagai pelaku utama dalam proses perencanaan, pengelolaan, dan pemanfaatan,” ujarnya dalam Rapat Koordinasi Cetak Sawah se-Kalimantan di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Sabtu.

Menurut dia, pendekatan berbasis komunitas diterapkan agar pengembangan sawah baru tidak semata berorientasi pada penambahan luas lahan pertanian, tetapi juga memperhatikan kepastian status lahan yang bersih dan jelas (clean and clear), manfaat ekonomi bagi masyarakat, serta keberlanjutan pengelolaan lahan.

Dalam pelaksanaannya, program mengedepankan keterlibatan masyarakat adat melalui musyawarah dan persetujuan atas pemanfaatan lahan yang berada di wilayah hak ulayat. Langkah tersebut ditempuh untuk memastikan pengembangan lahan berjalan sesuai ketentuan sekaligus memberikan kepastian hukum bagi masyarakat yang terlibat.

Baca juga: Kementan perkuat cetak sawah di Kalimantan percepat swasembada pangan

Baca juga: Wamentan: Cetak sawah investasi jangka panjang pangan

Kementan mendorong penguatan ekonomi lokal melalui pengelolaan hasil produksi pertanian oleh masyarakat setempat. Hasil panen dari lahan yang dikembangkan diarahkan untuk memperkuat kelembagaan ekonomi petani sehingga manfaat ekonomi dari aktivitas pertanian dapat dinikmati lebih luas oleh komunitas di sekitar lokasi pengembangan.

Selain membuka peluang usaha tani baru, kata Hermanto, program tersebut diperkuat melalui pembentukan Brigade Pangan yang melibatkan generasi muda dan petani milenial dalam kegiatan produksi pertanian.

Keterlibatan kelompok tersebut diharapkan mendukung penerapan teknologi dan inovasi guna meningkatkan produktivitas serta efisiensi usaha tani.

Untuk menunjang keberlanjutan program, Kementan memberikan pendampingan kepada petani dan kelembagaan tani melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pembinaan teknis budidaya, pengelolaan usaha tani, serta penguatan akses informasi pertanian.

Hermanto menyampaikan bahwa dukungan pemerintah terhadap komunitas petani juga diwujudkan melalui penyediaan sarana pertanian berupa alat dan mesin pertanian (alsintan), benih unggul, pupuk dolomit, dan pupuk bersubsidi.

Selain itu, pemerintah membangun infrastruktur pendukung seperti jalan akses sawah, jaringan irigasi, dan drainase untuk menunjang kelancaran produksi pertanian. Pemerintah juga memperkuat kemitraan pascapanen melalui penyerapan hasil panen gabah komunitas guna menjaga stabilitas harga serta memberikan kepastian pasar bagi petani.

“Program Cetak Sawah berbasis komunitas diarahkan untuk menciptakan lahan produktif baru secara berkelanjutan, memperkuat kemandirian pangan masyarakat, sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan petani melalui pengelolaan lahan yang melibatkan komunitas lokal,” ujar Hermanto.

Baca juga: Pemprov Papua dan Kementan mulai cetak sawah rakyat

Baca juga: Pangdam: Kerja keras petani fondasi utama jaga ketahanan pangan

Baca juga: Sultra dapat alokasi cetak sawah baru 24.700 hektare dari Kementan

Pewarta: Tumpal Andani Aritonang
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.