Kerja sama maritim Indonesia dan Rusia dapat dipahami sebagai salah satu indikator dari pergeseran yang lebih luas bahwa dunia tidak lagi tersusun dalam satu pusat gravitasi tunggal, melainkan tersusun dalam banyak pusat yang saling bersaing dan sali
Jakarta (ANTARA) - Peta perdagangan global saat ini tengah mengalami pergeseran. Sanksi Barat terhadap Rusia menyusul pecahnya perang Ukraina tidak hanya mengubah politik keamanan, tetapi juga telah menggeser arus logistik, energi, dan jalur perdagangan.
Rusia kini semakin aktif mencari mitra di Asia, Timur Tengah, dan Global South. Dalam situasi seperti ini, laut kembali menjadi ruang politik yang sangat cair.
Di titik ini, Indonesia muncul sebagai entitas yang menarik lantaran karakter geografisnya sebagai negara kepulauan. Dalam logika maritim global, negara kepulauan bukan sekadar pengguna jalur laut, tetapi sebagai simpul distribusi.
Maka, komitmen memperdalam kerja sama maritim antara Indonesia dan Rusia --yang ditegaskan lewat pertemuan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Republik Indonesia, Agus Harimurti Yudhoyono, dan Penasihat Presiden Federasi Rusia sekaligus Ketua Badan Maritim Rusia, Nikolai Patrushev, baru-baru ini, di Moskow, Rusia-- tidak bisa dilepaskan dari konteks ini.
Komitmen memperdalam kerjasa sama maritim kedua negara membuka kemungkinan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pasar atau lokasi produksi, tetapi juga bagian dari jaringan industri maritim yang lebih luas.
Ruang ekonomi politik
Bisa dikatakan kawasan Eurasia saat ini tampaknya bukan lagi sekadar konsep geografis. Ia kini menjadi ruang ekonomi politik yang bergerak. Jalur utara melalui Rusia, konektivitas ke Asia Tengah, hingga jalur laut yang menghubungkan Timur Tengah dan Asia Timur membentuk semacam arsitektur baru perdagangan global.
Selama ini, Indonesia lebih banyak terhubung ke jalur Indo-Pasifik. Namun, konektivitas ke Eurasia perlahan mulai terbuka melalui sejumlah skema kerja sama, termasuk dengan Rusia. Ini bukan berarti Indonesia berpindah poros, tetapi lebih ke upaya memperluas jangkauan jejaringnya.
Dalam politik internasional, perluasan jejaring ini sering dibaca sebagai strategi hedging. Negara tidak menutup satu pintu ketika membuka pintu lain.
Meski demikian, hedging tidak sesederhana bermain di semua sisi. Ia membutuhkan kapasitas institusional, konsistensi kebijakan, dan kemampuan membaca risiko geopolitik. Tanpa itu, diversifikasi mitra justru bisa berubah menjadi fragmentasi kebijakan.
Kerja sama maritim Indonesia-Rusia menjadi menarik karena ia berada di titik pertemuan antara ekonomi riil dan geopolitik. Kapal bukan hanya alat transportasi, tetapi juga infrastruktur strategis. Jalur logistik bukan hanya soal biaya, tetapi juga soal kontrol.
Baca juga: Konsultasi bilateral RI-Rusia sepakat perdalam kerja sama kemaritiman
Baca juga: Putin ratifikasi perjanjian perdagangan bebas EAEU-Indonesia
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.