Jakarta (ANTARA) -

Perencana keuangan Rista Zwestika CFP, WMI dari platform edukasi dan layanan konsultasi keuangan Finante.id menyarankan masyarakat menjaga total cicilan utang agar tidak melebihi 30 persen dari penghasilan bulanan guna mempertahankan kondisi keuangan yang sehat dan stabil.

Menurut dia, porsi cicilan yang terlalu besar dapat mengurangi kemampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidup, menabung, berinvestasi, maupun menyiapkan dana darurat.

"Secara umum, total cicilan sebaiknya tidak melebihi 30 persen dari penghasilan bulanan," kata Rista saat dihubungi ANTARA, Senin.

Baca juga: Tips jadi pahlawan finansial bagi keluarga di rumah

Baca juga: Anak akan mencontoh cara ibu kelola finansial

Ia menjelaskan batas tersebut memberikan ruang yang cukup bagi masyarakat untuk mengalokasikan pendapatan ke berbagai kebutuhan keuangan lainnya, termasuk biaya hidup sehari-hari dan tujuan keuangan jangka panjang.

Menurut Rista, menjaga keseimbangan antara kewajiban membayar utang dan kebutuhan lainnya menjadi semakin penting di tengah ketidakpastian ekonomi serta potensi kenaikan biaya hidup.

Ia mengingatkan masyarakat untuk mulai waspada apabila porsi cicilan telah mendekati atau bahkan melampaui 40 persen dari pendapatan bulanan. Kondisi tersebut dapat mempersempit ruang gerak keuangan dan meningkatkan risiko kesulitan finansial ketika terjadi perubahan kondisi ekonomi atau penurunan pendapatan.

"Jika porsi cicilan sudah mendekati atau bahkan melebihi 40 persen dari pendapatan, kondisi tersebut perlu diwaspadai karena dapat mengurangi fleksibilitas keuangan dan meningkatkan risiko kesulitan keuangan ketika terjadi kenaikan biaya hidup atau penurunan pendapatan," ujarnya.

Rista mengatakan masyarakat juga perlu memperhitungkan seluruh bentuk kewajiban pembayaran secara menyeluruh, mulai dari kredit rumah, kredit kendaraan, kartu kredit, hingga layanan pembiayaan digital atau paylater, sebelum mengambil cicilan baru. Pernyataan ini selaras dengan prinsip pengelolaan utang yang sehat agar beban keuangan tidak melebihi kemampuan membayar.

Selain memperhatikan besaran cicilan, ia menilai masyarakat perlu tetap membangun dana darurat dan menyisihkan sebagian pendapatan untuk tabungan maupun investasi agar memiliki ketahanan keuangan dalam jangka panjang.

Menurut Rista, pengelolaan utang yang bijak bukan berarti menghindari cicilan sepenuhnya, melainkan memastikan kewajiban tersebut masih berada dalam batas yang aman sehingga tidak mengganggu kebutuhan pokok maupun tujuan keuangan di masa depan.

Baca juga: Perencana keuangan: Tiga kesalahan orang tua saat tahun ajaran baru

Baca juga: Tahun ajaran baru, orang tua perlu siapkan "sinking fund" pendidikan

Baca juga: OJK Kepri bagikan tips rasio pengeluaran ideal bagi masyarakat

Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.