peserta didik tidak hanya menerima informasi, tetapi mampu mengolah dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari.

Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq mengajak para guru untuk menjadi “arsitek pembelajaran” yang mampu merancang pengalaman belajar bermakna, kontekstual, dan relevan dengan kehidupan murid, melalui pendekatan deep learning.

Ia menjelaskan deep learning atau pembelajaran mendalam bukanlah kurikulum baru, melainkan pendekatan pembelajaran yang berfokus pada proses memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan pengetahuan.

Deep learning adalah metode mengajar. Bagaimana murid memahami, melaksanakan, lalu merefleksikan apa yang dipelajarinya. Jadi bukan sekadar mengejar banyaknya materi yang selesai diajarkan, tetapi memastikan anak benar-benar memahami apa yang dipelajari,” ujar Wamendikdasmen Fajar dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Senin.

Melalui pendekatan ini, kata dia, peserta didik tidak hanya menerima informasi, tetapi mampu mengolah dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari.

Lebih lanjut, Fajar menilai penugasan kompetensi guru menjadi salah satu kunci utama dalam menjawab berbagai tantangan pendidikan yang masih dihadapi daerah.

Berdasarkan data yang dimiliki Kemendikdasmen, rata-rata lama sekolah di Kabupaten Garut masih berada di bawah rata-rata nasional dan angka putus sekolah masih menjadi perhatian bersama yang memerlukan kolaborasi berbagai pihak.

Ia mengibaratkan proses belajar seperti makanan yang harus dikunyah terlebih dahulu sebelum dicerna tubuh.

Jika materi diberikan tanpa memberi ruang kepada peserta didik untuk memahami dan mengolahnya, pembelajaran hanya menjadi proses transfer informasi yang tidak meninggalkan makna mendalam.

Menurutnya pula, pendidikan yang berkualitas tidak hanya berorientasi pada ketuntasan materi atau capaian administratif, melainkan memastikan pengetahuan yang diperoleh peserta didik dapat dipahami secara utuh, tersimpan dalam ingatan, dan diterapkan dalam kehidupan nyata.

Karena itu, lanjutnya, proses refleksi menjadi bagian penting dalam pembelajaran.

Pada kesempatan yang sama, ia juga menekankan guru perlu menggeser pola pembelajaran yang bersifat satu arah menjadi pembelajaran yang mendorong keterlibatan aktif peserta didik.

Murid, kata dia, tidak boleh hanya menjadi pendengar melainkan harus diberikan ruang untuk bertanya, berdiskusi, bereksplorasi, dan membangun pemahaman secara mandiri.

“Pesan saya kepada Bapak-Ibu Guru dan Kepala Sekolah, jadilah arsitek pembelajaran, bukan operator pembelajaran. Operator hanya mengulang proses yang sama, sementara arsitek memiliki kreativitas dan inovasi untuk menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna bagi anak-anak,” kata Wamendikdasmen Fajar.

Baca juga: Kemendikdasmen target revitalisasi 71.744 sekolah pada 2026

Baca juga: Kemendikdasmen paparkan komitmen benahi tata kelola kesejahteraan guru

Pewarta: Hana Dewi Kinarina Kaban
Editor: Rini Utami
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.