Serang (ANTARA) - Dinas Tenaga kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Banten mengimbau seluruh perusahaan atau industri dan pelaku usaha di wilayah Banten secara konsisten menerapkan prosedur kesehatan dan keselamatan kerja (K3) di lingkungan pekerjaannya masing-masing.
"Enggak putus-putusnya kita mengimbau agar selalu perhatikan K3. Bahkan setiap tahun selama satu bulan selalu ada Bulan K3," kata Septo Kalnadi di Serang, Senin.
Pernyataan Kadisnakertrans Banten tersebut berkaitan dengan peristiwa ledakan di sebuah pabrik kimia yakni PT MCCI di wilayah Merak Cilegon pada 25 Mei lalu. Pihaknya juga tengah melakukan proses pemeriksaan prosedur kesehatan dan keselamatan kerja bersama Kementerian Tenaga Kerja Republik Indonesia.
"Proses pemeriksaan ke MCCI sedang dilaksanakan," katanya.
Menurut Septo, pelaksanaan prosedur kesehatan dan keselamatan kerja di lingkungan perusahaan/industri sangat penting dilakukan agar tercipta lingkungan kerja yang aman dan nyaman bagi para karyawannya. Sehingga produktivitas kerja juga diharapkan akan meningkat dan juga tidak ada kecelakaan kerja (zero accident).
"Sudah 40 tahun lebih bulan K3 disosialisasikan. Setiap tahun juga kita memberikan penghargaan kepada para pembina K3," katanya.
Pada April 2026 lalu, kata Septo, Gubernur Banten Andra Soni memberikan penghargaan kepada sekitar 240 perusahaan di Banten,berupa penghargaan pembina kesehatan dan keselamatan kerja (Pembina K3) dan 78 perusahaan peduli HIV/AIDs.
Penghargaan dengan kategori silver, emas dan platinum ini diserahkan Gubernur Banten Andra Soni kepada perwakilan perusahaan dalam rangkaian kegiatan bulan K3 yang dimulai sejak 12 Januari sampai 12 Februari 2026.
Sementara itu, terkait peristiwa di PT MCCI, Kepolisian Daerah (Polda) Banten bersama Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Bareskrim Polri melakukan penyelidikan dan olah tempat kejadian perkara (TKP) terkait insiden ledakan yang terjadi di PT Merak Chemicals Indonesia (MCCI), Kota Cilegon pada Senin (25/5).
Kabid Humas Polda Banten Kombes Pol Maruli Ahiles Hutapea mengatakan untuk melengkapi proses penyelidikan, kepolisian juga terus melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi. Saksi-saksi tersebut meliputi para korban, masyarakat di sekitar lokasi, serta perwakilan dari pihak perusahaan.
Maruli mengungkapkan berdasarkan keterangan dari perwakilan PT MCCI Arif Budiawan peristiwa bermula saat perusahaan sedang beroperasi normal. Tiba-tiba, terdengar suara ledakan yang cukup keras dari area produksi di PTA-1 PT MCCI.
Suara ledakan tersebut memicu sistem peringatan dini (Early Warning System) menyala secara otomatis. Pihak perusahaan kemudian langsung menginstruksikan seluruh karyawan untuk melakukan evakuasi sebagai langkah antisipasi keselamatan kerja.
"Dugaan sementara, insiden ini terjadi karena adanya kebocoran pipa akibat tekanan suhu yang sangat tinggi. Kebocoran itu diduga menyebabkan peningkatan tekanan sehingga menimbulkan suara ledakan yang cukup besar," katanya menerangkan.
Pascainsiden, pihak MCCI segera melakukan penanganan awal dengan menghentikan sementara seluruh aktivitas di area terkait dan melakukan pengecekan teknis terhadap instalasi pipa maupun reaktor. Namun nahas, akibat kejadian tersebut, dua orang karyawan menjadi korban. adv
Pewarta: Bayu Kuncahyo
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.