Kairo (ANTARA) - Pada Hari Keamanan Pangan Sedunia, puluhan juta orang di Timur Tengah masih menghadapi kelangkaan pangan yang parah karena perang berkepanjangan, keruntuhan ekonomi, dan pengungsian massal terus melumpuhkan produksi pangan dan rantai pasokan lokal.

Data terbaru menunjukkan bahwa lebih dari 18 juta orang di Yaman dan sekitar 13,3 juta orang di Suriah mengalami kerawanan pangan. Seluruh sistem pangan di Gaza runtuh, membuat sekitar 77 persen penduduk wilayah kantong tersebut menghadapi tingkat kerawanan pangan akut yang tinggi. Sudan secara resmi menjadi negara dengan krisis kelaparan dan pengungsian internal terbesar di dunia.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah berulang kali menyerukan peningkatan pendanaan dan akses kemanusiaan tanpa hambatan guna mencegah kelaparan, seraya menekankan bahwa tanpa tindakan segera, akan ada jutaan orang lain yang terjerumus ke dalam bencana kelaparan katastropik di Timur Tengah.

Seorang anak Palestina difoto di dekat tenda-tenda pengungsi di sebelah barat Kota Gaza, pada 19 Februari 2026. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)

Warga Palestina menerima makanan gratis dari dapur umum di Kota Gaza, 18 Mei 2026. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)

Warga Palestina menerima makanan gratis yang dibagikan oleh dapur umum di dalam kamp pengungsi di Beit Lahia, Jalur Gaza utara, pada 15 Maret 2026. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)

Seorang warga Palestina membawa kontainer dan menunggu di dekat dapur umum untuk mendapatkan makanan gratis di Kota Gaza, 18 Mei 2026. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)

Seorang anak pengungsi mengisi wadah plastik dengan air minum di kamp pengungsian sementara di pinggiran Aden, Yaman, 11 Agustus 2025. (Xinhua/Murad)

Pewarta: Xinhua
Editor: Martha Herlinawati Simanjuntak
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.