Semarang (ANTARA) - Taman margasatwa Semarang Zoo menambah koleksi satwa berupa kapibara dan sitatunga, dari hasil kelahiran satwa koleksi yang merupakan persiapan menyambut liburan sekolah.

Direktur Semarang.Zoo Bimo Wahyu Widodo, di Semarang, Senin, menyebutkan bahwa kapibara atau sejenis marmut ukuran jumbo, koleksi kebun binatang itu baru saja melahirkan dua ekor anak.

Salah satu betina kapibara itu merupakan koleksi satwa baru hasil tukar menukar satwa dengan Taman Margasatwa Ragunan menjelang pertengahan tahun lalu, bersama dengan satu jantan dan dua betina.

Sebelumnya, sitatunga atau antelop yang didatangkan bersama dengan kapibara juga melahirkan seekor anak di kebun binatang milik Pemerintah Kota Semarang itu.

Dokter Hewan Semarang Zoo drh. Nurul Fauziah mengungkapkan bahwa saat ini anakan kapibara berusia hampir satu bulan.

Ia mengatakan saat ini kondisi anak kapibara tersebut sehat, namun belum bisa diidentifikasi jenis kelaminnya.

"Kondisinya, alhamdulillah sehat, dan masih terpantau diasuh oleh induknya. Tapi belum bisa diketahui jenis kelaminnya kalau hanya dengan melihat saja," katanya.

Baca juga: Watusi jadi kado Tahun Baru 2026 bagi pengunjung Ragunan

Baca juga: Pemkot targetkan lelang pengelola Bandung Zoo rampung akhir Mei ini

Menurut dia, setiap kematian dan kelahiran satwa dilaporkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), dan jika ada yang mati juga dijelaskan dalam laporan hasil autopsi.

Terkait kesehatan satwa, ia menjelaskan pemeriksaan kesehatan dilakukan secara rutin, dan dipantau melalui laporan yang diterima dari kiper (penjaga satwa) dan mengecek fisik secara langsung.

"Kami melihat keterangan dari para kiper-kipernya, kemudian kami cek sendiri satwanya. Nadi, nafas dan cek fisik. Biasanya kalau ada yang sakit pasti melawan kalau kita pegang," katanya.

Selain itu, kata dia, pemberian vitamin dan variasi pakan satwa juga menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan satwa.

Sementara itu, kiper yang merawat kapibara, Rizky, mengatakan tidak ada masalah selama merawat satwa karena kapibara merupakan termasuk herbivora jenis hewan pengerat.

"Gampangnya karena hewan pengerat kan, kayak hewan pengerat lain, dia suka sayur-sayuran, full herbivora. Jadi, ikan nila dan lele di kolam tidak dimakan. Itu kita gunakan untuk membersihkan kolam biar tidak ada jentik nyamuk," katanya.

Selama masa kehamilan, kata dia, memang tidak nampak pada kapibara, namun ia tetap tahu karena sudah sering berinteraksi dan akrab dengan satwa sehingga perubahan bentuk tubuh tetap bisa dicermati.

"Kami tahu dia bunting tapi secara visual memang tidak kelihatan. Kalau anaknya tidak sehat, ya ditinggal, tidak dimakan, full herbivora. Sejauh ini tidak ada kasus begitu, beda dengan tikus atau hamster," katanya.

Berkaitan dengan cuaca, ia mengatakan suhu udara menjadi faktor utama dalam merawat satwa semi akuatik itu di musim yang tidak menentu saat ini sehingga disediakan air untuk mereka berendam.

Baca juga: Bali Zoo buka wahana baru sambut libur tahun baru

Baca juga: Semarang Zoo gratiskan pelajar sambut libur sekolah

Baca juga: Semarang Zoo dikunjungi 5.411 wisatawan selama libur panjang

Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.