Budaya pembuktian diri, kebutuhan mendapatkan pengakuan kelompok, dan kecenderungan menyelesaikan masalah secara instan membuat konflik lebih mudah meledak

Surabaya (ANTARA) - Tidak ada yang menyangka sebuah perselisihan mengenai sandal dapat berakhir di ruang perawatan intensif, lalu berujung pada kematian seorang remaja yang sedang menatap masa depan.

Di sebuah kawasan permukiman di Surabaya Barat, seorang siswa yang baru menyelesaikan pendidikan menengah atas keluar rumah untuk membeli kebutuhan sederhana. Ia tidak sedang mencari masalah. Ia tidak sedang terlibat tawuran. Ia bahkan disebut telah berupaya menyelesaikan persoalan yang sebelumnya muncul.

Namun langkah pendek itu berubah menjadi perjalanan terakhir.

Kasus tewasnya Thomas Julius Kristianto setelah menjadi korban pengeroyokan oleh empat teman sebayanya menyisakan pertanyaan yang jauh lebih besar daripada sekadar motif hilangnya sebuah sandal. Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana konflik kecil dapat berubah menjadi tragedi besar ketika emosi, tekanan kelompok, dan budaya kekerasan bertemu dalam ruang yang sama.

Surabaya bukan kota pertama yang menghadapi kasus serupa. Di berbagai daerah, berita tentang perkelahian antarremaja, pengeroyokan, hingga kematian akibat konflik sepele terus muncul dari waktu ke waktu. Yang berubah hanyalah nama korban, lokasi kejadian, dan alasan pertikaian.

Persoalan sesungguhnya berada pada sesuatu yang lebih dalam, yakni kegagalan mengelola kemarahan dan menyelesaikan konflik secara sehat.

Dalam kasus Thomas, keluarga korban menyatakan telah berupaya mengganti sandal yang hilang. Namun sengketa mengenai nilai barang itu tidak berhenti. Perselisihan berkembang menjadi ajakan berduel, lalu berubah menjadi pengeroyokan.

Di titik itulah harga sebuah benda tidak lagi menjadi persoalan utama. Yang bekerja adalah ego, gengsi, dan dorongan untuk menunjukkan dominasi.

Fenomena semacam ini semakin sering ditemukan pada kelompok usia remaja akhir. Mereka berada pada fase pencarian identitas, memiliki emosi yang kuat, tetapi belum sepenuhnya matang dalam mengendalikan impuls dan mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang.

Ironisnya, keputusan yang diambil dalam hitungan menit dapat menghancurkan masa depan yang dibangun selama bertahun-tahun.


Lingkar kekerasan

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.