Ancaman keamanan di Eropa meningkat pada saat Amerika Serikat mulai membagi perhatian strategisnya ke kawasan lain
Jakarta (ANTARA) - Selama lebih dari tujuh dekade, Pakta Pertahanan Atlantik Utara (North Atlantic Treaty Organization/NATO) berdiri di atas kesepakatan yang tidak pernah tertulis, tetapi dijalankan secara konsisten.
Amerika Serikat menyediakan kekuatan militer utama. Eropa menyediakan legitimasi politik dan institusional. Pembagian ini menjadi fondasi keamanan Barat sejak 1945 dan bertahan melalui Perang Dingin, runtuhnya Uni Soviet, hingga berbagai krisis di abad ke-21.
Kini keseimbangan itu mulai bergeser. Bukan karena NATO kehilangan relevansi, melainkan karena Amerika Serikat menghadapi prioritas strategis yang berbeda dibanding satu dekade lalu. Perang di Ukraina mempercepat perubahan tersebut.
Dari Washington muncul pesan yang semakin jelas bahwa Eropa harus mengambil porsi yang lebih besar dalam menjaga keamanannya sendiri. Ini bukan penyesuaian sementara, melainkan perubahan bertahap dalam cara aliansi transatlantik membagi tanggung jawab.
Dalam praktiknya, NATO selama ini sangat bergantung pada Amerika Serikat. Washington menyediakan kemampuan yang sulit digantikan, mulai dari proyeksi kekuatan global, intelijen strategis, logistik lintas benua, hingga payung nuklir yang menjadi inti deterrence, yakni kemampuan mencegah lawan bertindak melalui ancaman balasan yang kredibel.
Secara formal, NATO adalah aliansi kolektif, tetapi sebagian besar kemampuan militernya tetap bertumpu pada AS.
Sementara itu, Eropa menikmati periode panjang pasca-Perang Dingin yang relatif stabil. Banyak negara mengalihkan perhatian ke pertumbuhan ekonomi, integrasi kawasan, dan penguatan negara kesejahteraan. Pertahanan tetap penting, tetapi bukan lagi prioritas utama. Pendekatan ini berjalan cukup baik selama ancaman keamanan relatif rendah. Kondisi tersebut kini berubah.
Pada saat yang sama, perhatian strategis Amerika semakin bergeser ke Indo-Pasifik. Kompetisi dengan China kini menjadi salah satu pertimbangan utama dalam perencanaan jangka panjang Washington. Dalam situasi seperti itu, sumber daya militer tidak bisa ditempatkan di semua kawasan dengan intensitas yang sama. Setiap tambahan komitmen di satu wilayah menuntut penyesuaian di wilayah lain.
Perubahan itu mulai tercermin dalam kebijakan NATO. Pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO 2025 di Den Haag, Belanda, negara-negara anggota menyepakati peningkatan investasi pertahanan hingga sekitar lima persen dari produk domestik bruto pada 2035.
Sebagian besar ditujukan untuk kebutuhan militer inti, sementara sisanya dialokasikan untuk sektor yang mendukung keamanan secara lebih luas, termasuk infrastruktur strategis dan ketahanan siber.
Kesepakatan tersebut menunjukkan bahwa pertahanan kini dipandang sebagai kebutuhan jangka panjang, bukan sekadar respons terhadap krisis sesaat.
NATO juga menegaskan bahwa kesiapan tempur modern tidak hanya bergantung pada kekuatan nuklir dan konvensional, tetapi juga pada pertahanan rudal, kemampuan siber, dan kapabilitas antariksa. Dengan kata lain, definisi pertahanan semakin luas seiring berkembangnya bentuk ancaman yang dihadapi.
Porsi lebih besar
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.