Jakarta (ANTARA) - Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) menyatakan kekayaan rekam jejak historis kebencanaan dan bukti geologi di kawasan timur Nusantara merupakan modal ilmiah berharga untuk menyusun cetak biru mitigasi yang akurat guna menghadapi potensi gempa masa depan.
Anggota IABI Daryono di Jakarta, Selasa, mengatakan gempa bumi bermagnitudo 7,8 bersumber di Zona Subduksi Cotabato, Filipina, Senin (8/6), memberikan data observasi berharga bagi ilmu kebumian untuk membaca pergerakan energi yang tersimpan di bawah laut.
"Sejarah sebenarnya telah memberi petunjuk. Bagi ilmu kebumian, rangkaian peristiwa ini adalah bagian dari cerita panjang yang membantu kita untuk memahami bagaimana memilih untuk bersiap menghadapinya," kata dia.
Menurut dia, kelengkapan catatan gempa signifikan di kawasan pertemuan Lempeng Laut Filipina, Palung Cotabato, dan Subduksi Ganda Laut Maluku --seperti peristiwa tahun 1918, 1976, 1996, hingga 2023-- justru menjadi instrumen prediktif yang kuat bagi para ahli.
Melalui pemahaman pola spasial dan mekanisme sumber patahan naik (thrusting) dari gempa-gempa terdahulu, para ilmuwan kini dapat memetakan karakteristik ketidakpastian tektonik dengan jauh lebih terukur, baik dari sisi estimasi magnitudo, kedalaman, maupun kalkulasi potensi tsunami.
Baca juga: BMKG akhiri peringatan dini tsunami pascagempa Laut Sulawesi
Tersedianya pemodelan sains yang bersumber dari perilaku alam ini harus direspons sebagai peluang besar untuk mentransformasikan pemahaman publik dan memperkuat sistem keselamatan hingga ke level komunitas terkecil.
Daryono menjelaskan di bagian selatan Filipina, Subduksi Cotabato menunjukkan karakter unik berupa sistem penunjaman yang relatif sempit namun aktif, dengan segmentasi yang kuat. Zona ini berasosiasi dengan deformasi kerak yang kompleks, termasuk pembentukan sesar naik dan sesar geser yang meningkatkan potensi gempa dangkal merusak.
Aktivitas di wilayah ini mencerminkan transisi antara dominasi subduksi dan deformasi intra-lempeng.Sementara itu, di wilayah Laut Maluku berkembang sistem subduksi ganda (double subduction) yang jarang ditemukan secara global.
Menurutnya, Lempeng Laut Maluku tersubduksi ke arah barat di bawah Busur Sangihe dan ke arah timur di bawah Busur Halmahera, menciptakan sistem kolisi busur-busur kepulauan (arc-arc collision). Proses ini menghasilkan deformasi intens, penebalan kerak, serta aktivitas seismik yang kompleks dan beragam kedalaman.
IABI optimistis bahwa integrasi antara kekayaan data geologi dan peningkatan kesadaran kolektif masyarakat akan mampu mengubah kerentanan kawasan timur Indonesia menjadi ketangguhan wilayah yang mandiri dalam menghadapi risiko geodinamika.
"Bencana bukan hanya tentang apa yang terjadi di dalam bumi, tetapi bagaimana kita memilih untuk bersiap menghadapinya.Ini adalah momentum terbaik untuk menempatkan edukasi publik dan tata ruang berbasis risiko sebagai prioritas utama kita," kata dia.
Baca juga: Gempa susulan terus terjadi di Kepulauan Sangihe
Baca juga: 27 rumah dan dua gereja di Sulawesi Utara rusak akibat gempa
Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.