Pertumbuhan ekonomi yang terjadi hari ini tidak boleh lagi mengorbankan aspek lingkungan hidup lantaran dapat membahayakan generasi mendatang
Mataram (ANTARA) - Pada akhir Mei 2026, publik terperangah oleh rekaman video yang diunggah pengguna Instagram @fahroerizki dari bilik kecil jendela pesawat yang sedang terbang melintasi wilayah udara Kabupaten Bima di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Video singkat berdurasi 1 menit 30 detik itu menampilkan ironi lahan tanpa vegetasi yang membentang luas sejauh mata memandang di Kecamatan Soromandi dan Kecamatan Donggo.
Petak-petak ladang pertanian membelah lereng perbukitan yang telah kehilangan warna hijau, sementara pepohonan hanya tersisa di beberapa titik yang mengikuti liukan alur sungai.
Ladang pertanian setelah panen itu menyisakan hamparan tanah terbuka setiap musim kemarau tiba dan menunggu periode tanam berikutnya saat hujan mulai turun untuk menumbuhkan benih tanaman.
Sebuah pertanyaan besar muncul dalam benak tentang sampai kapan kawasan perbukitan gundul sanggup menopang kehidupan bila tutupan pohon terus berkurang?
Setiap bukit yang kehilangan kanopi hutan adalah tanda berkurangnya kemampuan alam untuk menyediakan air bersih dan juga kehilangan kekuatan dalam menjaga tanah dari ancaman longsor serta banjir. Bencana hidrometeorologi yang marak terjadi selama tiga dekade terakhir berkorelasi dengan kerusakan hutan di banyak tempat.
Global Forest Watch menyatakan, Nusa Tenggara Barat telah kehilangan 110 ribu hektare tutupan pohon selama rentang waktu 2001 hingga 2025. Luas tutupan pohon yang hilang itu mencapai 1.100 kilometer persegi atau setara 17 kali Kota Mataram dan melepaskan emisi karbon dioksida sebanyak 61 metrik ton.
Kabupaten Sumbawa, Dompu, dan Bima merupakan tiga daerah dengan tingkat kehilangan tutupan pohon paling luas di Nusa Tenggara Barat dalam kurun waktu seperempat abad terakhir. Luas tutupan pohon yang hilang masing-masing sebanyak 36 ribu hektare di Sumbawa, 26 ribu hektare di Dompu, dan 25 ribu hektare di Bima.
Budidaya jagung yang dicanangkan 15 tahun silam melalui program Pijar (akronim sapi, jagung, dan rumput laut) memberikan andil paling besar terhadap perubahan bentang alam di tiga kabupaten tersebut.
Pada 2010, kehilangan tutupan pohon masih relatif rendah hanya sekitar 1,1 ribu hektare. Setelah itu, angka tutupan pohon yang hilang terus meningkat dan bertahan pada level yang tinggi sampai hari ini.
Kehilangan tutupan pohon paling luas di Nusa Tenggara Barat terjadi setiap periode El Nino, yakni 2014 sebanyak 7,1 ribu hektare, 2019 seluas 8,7 ribu hektare, dan 2023 mencapai 9,9 ribu hektare. Fenomena iklim global itu memicu musim kering berdurasi panjang yang mengubah vegetasi menjadi sangat kering dan rentan terbakar.
Manusia harus mulai memperbaiki hubungan hutan dengan pertanian agar anak-cucu tidak menanggung beban ekologis akibat ekspansi ladang yang mengubah bentang alam. Setiap bibit pohon yang ditanam merupakan investasi terbaik untuk memulihkan kondisi lingkungan.
Petani garda terdepan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.