Nusantara (ANTARA) - Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) dan Kementerian Kehutanan berkolaborasi merehabilitasi lahan eks-tambang, terutama di kawasan Taman Hutan Rakyat Bukit Soeharto, guna menyulap daerah bekas tambang menjadi hutan produktif, penyangga air, dan habitat satwa.
Hal ini untuk mendukung visi IKN sebagai kota hutan (forest city) bagi dunia, yakni dengan mewujudkan pusat pemerintahan yang selaras dengan alam melalui dedikasi 65 persen wilayah sebagai area hijau guna memulihkan kembali hutan hujan tropis.
"Saat ini kami masih menjalin kerja sama dengan Kementerian Kehutanan untuk melakukan rehabilitasi kawasan bekas tambang, khususnya di Taman Hutan Rakyat (Tahura) Bukit Soeharto," ujar Kepala OIKN Basuki Hadimuljono di Nusantara, Selasa.
Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memulihkan ekosistem sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan hidup di kawasan penyangga IKN.
Sejumlah kegiatan yang dilakukan dalam kerja sama ini sudah dimulai dengan melakukan pemetaan dan penataan lahan, mengukur kedalaman lubang tambang.
Baca juga: OIKN ambil langkah tegas penegakan hukum pengerusakan hutan
Langkah selanjutnya menimbun dan meratakan tanah, memperbaiki drainase agar tidak terjadi genangan air, memperbaiki kesuburan tanah yang rusak maupun tercemar.
Bentuk kerja sama lainnya berupa penanaman pohon secara bertahap, dimulai dari tanaman cepat tumbuh, seperti akasia dan sengon, yang berfungsi menahan longsor hingga menutup lahan.
Tahap selanjutnya yang sudah dirancang untuk dijalankan ke depan, yakni menanam spesies endemik Kalimantan, seperti meranti, ulin, dan kapur, agar kembali seperti hutan asli, dengan bibit disiapkan bersama balai pembenihan hutan di bawah naungan Kementerian Kehutanan (Kemenhut).
Kerja sama lainnya berupa pengelolaan air dan pengendalian erosi dengan kegiatan, meliputi pembuatan saluran air, cekdam, dan kolam retensi di bekas galian, termasuk mencegah air asam tambang merembes ke sungai sekitar tahura.
Bentuk lain kerja sama yang disepakati melakukan pemantauan dan pengawasan, yakni memantau pertumbuhan tanaman setiap 3–6 bulan dan mengawasi agar tidak ada penambangan liar terulang.
Kerja sama ini juga melibatkan warga setempat dengan pola pemberdayaan, yakni sebagai tenaga pelaksana dan pemelihara, kemudian menanam tanaman bernilai ekonomi baik karet, aren, maupun buah untuk kesejahteraan warga.
"Selain untuk memulihkan alam dan mendukung ekonomi lokal, giat ini juga untuk mendukung Gerakan ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah), sekaligus untuk memperkuat komitmen IKN sebagai kota hutan berkelanjutan," kata Basuki.
Baca juga: Menteri LH sentil industri tambang lewat inisiatif pemulihan hutan IKN
Baca juga: OIKN: Kehadiran satwa liar bukti ekosistem kota hutan IKN terbentuk
Pewarta: M.Ghofar
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.