Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Evita Nursanty menilai bahwa aset terbesar Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA bukanlah gedung atau kecanggihan teknologi, melainkan adalah jaringan wartawan yang dimiliki.
Dia menilai bahwa ANTARA memiliki jaringan yang luar biasa untuk urusan wartawan. Maka dari itu, menurut dia, ANTARA harus terus melatih wartawannya yang ada di seluruh wilayah di Indonesia.
"Ini kan jaringan ANTARA ini luar biasa untuk jaringannya. Tidak ada saya rasa media cetak yang memiliki kekuatan jaringan seperti ANTARA," kata Evita saat rapat dengar pendapat bersama ANTARA, TVRI, dan RRI di kompleks parlemen, Jakarta, Selasa.
Namun demikian, dia mengatakan bahwa posisi ANTARA harus jelas sebagai media komunikasi publik pemerintah. Terlebih lagi, kata dia, ANTARA memiliki public service obligation (PSO).
"Ini kan harus mampu juga memegang peranan di dalam yang namanya melawan hoaks-hoaks yang begitu masif beredar," katanya.
Baca juga: ANTARA kawal narasi Astacita dalam kinerja pemberitaan 2026
Di era teknologi saat ini dengan masifnya informasi melalui media sosial, dia pun ingin mengembalikan kekuatan ANTARA seperti sediakala.
Di masa silam, menurut dia, ANTARA benar-benar merupakan media tunggal yang menjadi sumber informasi bagi media cetak.
Meski memiliki keunggulan soal pemberitaan teks, dia pun menilai bahwa tidak ada salahnya jika ANTARA mengembangkan media digital agar pembaca bisa menikmati berita dalam bentuk audio visual.
Menurut dia, publik kini lebih nyaman untuk menerima informasi berita dengan cara mendengar atau melihat visual.
"Karena di era digital sekarang memang kita harus mengikuti apa yang memang menjadi minat ya, terutama generasi muda kita,' kata dia.
Baca juga: Komisi VII akan rapat dengan TVRI, RRI, ANTARA, bahas evaluasi kinerja
Baca juga: Menkomdigi: LKBN ANTARA garda terdepan jaga integritas informasi
Baca juga: Kepala Bakom RI dorong penguatan peran ANTARA di era digital
Pewarta: Bagus Ahmad Rizaldi
Editor: La Ode Masrafi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.