Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakan Ibu Kota Nusantara (IKN) dirancang agar dapat menjadi kawasan percontohan pemerintahan digital terdepan di Indonesia salah satunya sebagai laboratorium layanan publik berbasis kecerdasan artifisial (AI).

Dengan dukungan pendanaan internasional untuk perencanaan kota pintar atau smart city yang mencapai 2,49 juta dolar AS (sekitar Rp44 miliar) pada awal 2026, IKN disiapkan agar dapat menjadi "laboratorium hidup" bagi pengembangan teknologi di masa depan.

“Ibu Kota Nusantara dirancang untuk menjadi laboratorium hidup bagi teknologi masa depan. Mulai dari autonomous vehicle, sistem energi yang pintar, hingga layanan publik berbasis AI yang inklusif,” kata Nezar membuka acara pelatihan talenta digital untuk program Digital Leadership Academy (DLA) yang dilangsungkan secara daring, Selasa.

Baca juga: IKN antisipasi penumpukan sampah lewat sistem berbasis teknologi

Lebih lanjut Nezar mengatakan sebagai gerbang utama IKN, Balikpapan juga dinilai memiliki peran penting sebagai kawasan penyangga pemerintahan digital sehingga kota ini harus juga memiliki standar layanan publik yang setara dan terintegrasi.

Pembangunan kota pintar tersebut krusial karena berdasarkan data dari IMD World Digital Competitiveness Ranking 2025, Indonesia masih memiliki tantangan dalam aspek kesiapan teknologi dan pengetahuan yang harus segera diakselerasi.

Selain pembangunan kota pintar tersebut, Kementerian Komdigi juga berupaya melakukan akselerasi di aspek pengetahuan para pemimpin baik pejabat di pemerintahan pusat maupun daerah melalui Digital Leadership Academy (DLA).

Baca juga: OIKN dan 7 perusahaan AS kerja sama kembangkan konsep Command Center

Program ini diadakan untuk menghasilkan para pemimpin digital yang lebih unggul dalam People centricity, Agile Strategy, dan Agile Execution.

Secara lebih detail program DLA memiliki kurikulum yang komprehensif, mencakup 10 kompetensi utama yang selaras dengan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) sehingga lulusannya dapat tesertifikasi sebagai pemimpin digital unggul.

Dengan standar yang terstruktur maka harapannya para pemimpin digital tersebut tidak hanya mengerti teknologi yang tengah berkembang tapi juga bisa mengambil kebijakan efisien berbasis dukungan teknologi tersebut.

Baca juga: Telkomsel hadirkan pemanfaatan teknologi 5G SA pertama di Indonesia

"Kita tidak hanya bicara tentang cloud computing atau cyber security, tapi juga tentang enterprise architecture yang menjamin integrasi data lintas instansi serta pemanfaatan AI untuk pengambilan keputusan berbasis data,” kata Nezar.

Wamen Nezar mendorong agar para peserta DLA 2026 menggunakan kesempatan tersebut untuk memperluas cakrawala mereka, membangun jejaring kolaborasi, serta mengubah pola pikir agar lebih progresif dan transformatif.

Ia menambahkan bahwa pola pikir menjadi hal utama yang harus diubah karena digitalisasi tidak hanya terbatas pada menciptakan aplikasi untuk membantu secara administratif saja.

Mindset kita yang pertama harus diubah karena digitalisasi bukan berarti hanya menciptakan aplikasi-aplikasi untuk membantu kita secara administratif, tetapi juga bagaimana mindset kita dalam problem solving, mencari solusi, dan memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat,” Nezar menutup pernyataannya.

Baca juga: OIKN ungkap sekitar 50 lebih LoI teknologi kota cerdas IKN

Baca juga: Teknologi internet Starlink diuji coba pada beberapa titik di IKN

Pewarta: Livia Kristianti
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.