Jakarta (ANTARA) - Sekolah Dasar Negeri (SDN) Sukabumi Selatan 06, Kelurahan Sukabumi Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, resmi menerapkan konsep kawasan bebas sampah atau zero waste di lingkungan sekolah.
Langkah ini dilakukan melalui optimalisasi pengelolaan sampah mandiri, seperti kegiatan pengomposan (composting), pengaktifan bank sampah, hingga pemberlakuan aturan ketat larangan membuang sampah sembarangan.
Kepala SDN Sukabumi Selatan 06, Sunarsih, di Jakarta, Selasa, mengatakan bahwa penerapan kawasan zero waste ini merupakan bentuk implementasi nyata dari Instruksi Gubernur (Ingub) DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengelolaan Sampah dari Sumber.
Selain itu, program ini juga diintegrasikan dengan program Adiwiyata sekolah. "Sekolah kita ini untuk kesehariannya Insya Allah sudah zero sampah. Ini sesuai dengan Ingub nomor 5 tahun 2026," ujarnya.
Secara teknis, Sunarsih menjelaskan bahwa pihak sekolah mewajibkan seluruh siswa untuk membawa botol minum (tumbler) dan wadah makan sendiri dari rumah sebagai bekal. Sementara untuk area kantin, sekolah telah menyediakan fasilitas piring dan gelas guna menekan penggunaan wadah plastik sekali pakai untuk jajanan siswa.
Tidak hanya mengelola sampah di dalam sekolah, gerakan peduli lingkungan ini juga melibatkan peran aktif siswa dari rumah. Setiap hari Selasa, para siswa rutin membawa sampah anorganik berupa botol plastik dan kardus untuk dihimpun melalui bank sampah sekolah.
Baca juga: DKI ajak seluruh pihak wujudkan Jakarta bebas sampah
“Setiap Jumat kami juga mengadakan program sedekah minyak jelantah. Program itu mengajak seluruh siswa membawa minyak jelantah sisa memasak dari rumah masing-masing untuk dikumpulkan di sekolah,” katanya.
Untuk sampah organik, pihak sekolah memanfaatkan metode komposter. Kegiatan pengomposan ini dilakukan setiap dua pekan sekali oleh guru pembina bersama 10 siswa yang ditunjuk sebagai kader lingkungan.
Hingga saat ini, pemanfaatan sampah organik di sekolah tersebut telah menghasilkan produk eco-enzyme. Sedangkan untuk sampah anorganik, para siswa diajak mengasah kreativitas dengan menyulapnya menjadi produk kriya bernilai guna, seperti tempat tisu, tas, hingga bangku dari ecobrick.
Rangkaian kegiatan itu bertujuan memberikan edukasi dini kepada siswa mengenai gerakan keberlanjutan (sustainability) sekaligus menanamkan pemahaman bahwa sampah memiliki nilai ekonomis jika dikelola dengan tepat.
Dia berharap kebiasaan baik ini dapat membentuk karakter siswa yang peduli lingkungan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga berkontribusi langsung pada pengurangan volume sampah di wilayah DKI Jakarta.
Penerapan program ini pun mendapat respon positif dari para murid. Tashya, siswi kelas V SDN Sukabumi Selatan 06, mengaku senang karena program ini memberikan wawasan baru bagi dirinya dan teman-teman.
"Kita jadi tahu bahayanya tumpukan dan jenis-jenis sampah apa saja. Kita juga diajarin cara mengelola sampah jadi prakarya dan sebagainya," tutur Tashya.
Baca juga: Pemprov DKI gandeng KLH wujudkan Jakarta bebas sampah
Baca juga: Legislator dukung retribusi kebersihan agar Jakarta bebas sampah
Pewarta: Redemptus Elyonai Risky Syukur
Editor: Syaiful Hakim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.