Jakarta (ANTARA) - Pengamat telekomunikasi Heru Sutadi menilai spektrum frekuensi 700 MHz dapat menjadi solusi untuk memperluas akses internet ke wilayah terpencil, perbatasan, dan kepulauan di Indonesia.

"Karakteristik frekuensi 700 MHz mampu menjangkau wilayah yang lebih luas dengan jumlah BTS (Base Transceiver Station) yang lebih sedikit, sehingga lebih ekonomis untuk melayani daerah terpencil, perbatasan, dan kepulauan," kata Heru saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Selasa.

Diketahui, pemerintah membuka lelang seleksi pengguna pita frekuensi radio 700 MHz dan 2,6 GHz untuk memperluas jangkauan layanan telekomunikasi dengan teknologi seluler 4G dan 5G hingga ke daerah pelosok.

Baca juga: Kemkomdigi resmikan dua pemenang lelang frekuensi 1,4 GHz untuk BWA

Hal ini ditetapkan dalam Keputusan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 175 Tahun 2026 tentang Seleksi Pengguna Pita Frekuensi Radio 700 MHz dan 2,6 GHz untuk Keperluan Penyelenggaraan Jaringan Bergerak Seluler Tahun 2026.

Langkah ini merupakan upaya pemerintah dalam mengoptimalisasi sumber daya spektrum frekuensi guna mendorong perluasan jangkauan dan peningkatan kualitas layanan jaringan bergerak seluler atau mobile broadband di seluruh wilayah Indonesia.

Direktur Eksekutif Information and Communication Technology (ICT) Institute itu menilai, tambahan spektrum akan meningkatkan kapasitas jaringan sehingga kualitas layanan dan kecepatan internet dapat semakin baik.

Pita 700 MHz memungkinkan operator membangun jaringan dengan biaya lebih efisien dan cakupan lebih luas, sehingga mendukung pemerataan akses digital.

Sedangkan pita 2,6 GHz membantu mengurangi kepadatan trafik di wilayah perkotaan yang padat pengguna, sehingga pengalaman pelanggan menjadi lebih optimal.

Heru mengemukakan, kedua pita frekuensi tersebut juga dinilai sangat strategis bagi industri telekomunikasi. Dia menjelaskan pita 700 MHz memiliki jangkauan luas dan efisien untuk memperluas cakupan layanan, terutama di wilayah pedesaan dan terluar.

Sementara 2,6 GHz menyediakan kapasitas besar untuk mendukung kebutuhan trafik data yang terus meningkat.

"Kombinasi keduanya akan memperkuat fondasi pengembangan jaringan 4G dan 5G di Indonesia," kata pengamat yang juga menjabat sebagai President of Asia Digital Connectivity and Society itu.

Heru mengingatkan, dalam proses lelang, harga spektrum sebaiknya ditetapkan secara wajar dan mempertimbangkan keseimbangan antara penerimaan negara dan kebutuhan investasi operator.

Harga lelang terlalu tinggi disebut berpotensi mengurangi kemampuan operator untuk membangun jaringan baru.

Menurutnya, hal yang terpenting bukan sekedar nilai lelangnya, melainkan seberapa cepat spektrum tersebut bisa diaplikasikan menjadi layanan yang dirasakan masyarakat.

"Dengan harga yang sehat, operator memiliki ruang lebih besar untuk memperluas cakupan, meningkatkan kualitas layanan, dan mempercepat pemerataan internet hingga ke daerah yang belum terlayani secara optimal," kata Heru.

Baca juga: Kemkomdigi ungkap tiga opsel ikut lelang frekuensi 700 MHz dan 2.6 GHz

Baca juga: Kemkomdigi seleksi frekuensi, perluas internet cepat ke pelosok

Baca juga: Kemkomdigi lelang frekuensi untuk perluas jangkauan layanan 4G dan 5G

Pewarta: Farhan Arda Nugraha
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.