Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Timur (Jaktim) memperketat pengawasan pelaksanaan program pemilahan sampah dari sumber sebagai langkah strategis menghadapi kondisi darurat sampah yang menjadi perhatian bersama.

"Pengelolaan sampah tidak bisa hanya mengandalkan pengangkutan ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Masyarakat harus berperan aktif dengan memilah dan mengolah sampah dari sumbernya agar volume sampah yang dibuang dapat terus berkurang, bahkan bebas sampah (zero waste)," kata Wali Kota Jakarta Timur Munjirin di Kantor Walikota Jakarta Timur, Rabu.

Melalui monitoring dan evaluasi (monev) yang dilakukan secara berkala, dia mendorong seluruh wilayah kecamatan agar mempercepat penerapan pengelolaan sampah mandiri di tingkat masyarakat.

Menurut dia, persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan pengangkutan menuju TPST Bantargebang. Perubahan pola pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya melalui keterlibatan aktif masyarakat.

"Pengawasan terhadap pelaksanaan program pemilahan sampah menjadi penting mengingat volume sampah yang dihasilkan Jakarta setiap hari masih cukup tinggi," ujar Munjirin.

Baca juga: Jaktim dorong transparansi SPMB dan budaya pilah sampah di sekolah

Selain itu, dia meminta kepada seluruh jajaran pemerintah wilayah agar terus memperkuat sosialisasi sekaligus memastikan warga memahami tata cara pemilahan sampah organik dan anorganik.

Di sisi lain, dia juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Melalui sinergi tersebut, berbagai inovasi pengolahan sampah dapat diterapkan lebih luas di lingkungan permukiman.

Hal tersebut sejalan dengan Instruksi Gubernur (Ingub) Nomor 5 Tahun 2026, yakni seluruh masyarakat diwajibkan melakukan pemilahan dan pengolahan sampah sejak dari sumbernya.

Kebijakan itu berlaku mulai dari tingkat rumah tangga hingga fasilitas umum sebagai bagian dari upaya mewujudkan Jakarta yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Dalam pelaksanaannya, sampah organik diarahkan untuk diolah secara mandiri di lingkungan sekitar, sedangkan sampah anorganik, seperti plastik, kertas, logam, dan botol dipilah untuk kemudian disetorkan ke bank sampah untuk didaur ulang dan dimanfaatkan kembali.

Munjirin optimistis pengawasan yang diperkuat melalui monitoring dan evaluasi secara rutin mampu meningkatkan kepatuhan masyarakat terhadap kebijakan pemilahan sampah, sehingga volume sampah yang dikirim ke TPST Bantargebang dapat ditekan.

"Selain menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat dalam menjaga Jakarta Bersih, langkah ini juga mendukung terwujudnya pengelolaan sampah berkelanjutan serta ekonomi sirkular di wilayah Jakarta Timur," ungkap Munjirin.

Baca juga: Kelola sampah pakai biopori jumbo, warga Pondok Kelapa dipuji Gubernur DKI

Baca juga: Pramono tegaskan pengelolaan sampah yang baik dimulai dari rumah

Pewarta: Siti Nurhaliza
Editor: Rr. Cornea Khairany
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.