Kondisi seperti ini menuntut tata kelola risiko yang lebih responsif dari pemerintah daerah, terutama dalam mengamankan pasokan utilitas publik

Jakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan kondisi kemarau kering yang dipicu oleh fenomena anomali iklim El Nino kuat pada pertengahan tahun ini tetap menyimpan potensi dan peluang ekonomi yang dapat dioptimalkan di sektor hilir nasional.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu, mengatakan bahwa dampak kekeringan tersebut dapat dimanfaatkan secara positif untuk mendongkrak produktivitas komoditas tambak garam serta sektor perikanan tangkap.

"Kondisi kering akibat El Nino kuat ini tetap menyimpan peluang ekonomi yang dapat dioptimalkan di sektor hilir, seperti peningkatan produksi tambak garam serta optimalisasi tangkapan ikan akibat fenomena upwelling" kata dia.

Dia menjelaskan, selain menguntungkan bagi peningkatan produksi garam nasional akibat minimnya curah hujan, karakteristik iklim kemarau ini juga memicu fenomena upwelling atau naiknya massa air laut yang kaya nutrisi ke permukaan, sehingga mampu meningkatkan hasil tangkapan nelayan secara signifikan.

Baca juga: Fasilitas air bersih Pulau Kelapa dipastikan mampu antisipasi El Nino

Optimasi peluang ekonomi di tengah kemarau panjang tersebut juga dapat menyasar sektor pertanian melalui peningkatan produktivitas komoditas hortikultura pada wilayah-wilayah yang didukung oleh ketersediaan sistem pengairan atau irigasi yang memadai.

Meskipun menyimpan potensi keuntungan ekonomi di sektor hilir, Teuku Faisal mengingatkan bahwa pemutakhiran prediksi iklim ini mencatat adanya peluang intensitas El Nino kategori kuat mencapai 62 persen dan kategori moderat sebesar 98 persen mulai pertengahan tahun ini.

Hantaman anomali iklim global tersebut diproyeksikan membuat akumulasi curah hujan di 482 zona musim (Zom) atau mencakup 56,18 persen luas daratan Indonesia berada pada kategori bawah normal atau jauh lebih kering dari kondisi biasanya.

Durasi musim kemarau tahun ini juga diprediksi berlangsung lebih panjang dari normalnya pada 437 zona musim (48,77 persen daratan), dengan puncak kekeringan yang diperkirakan terjadi pada bulan Agustus mendatang melanda 369 zona musim.

Baca juga: BMKG: El Nino kurangi intensitas hujan di Jabar sepekan ke depan

Kedatangan periode kering ini dipetakan berjalan secara bertahap, di mana sebanyak 198 zona musim memasuki awal kemarau pada bulan Juni ini, disusul perluasan wilayah kekeringan di 66 zona musim baru pada Juli nanti.

Dia menyebutkan, kondisi seperti ini menuntut tata kelola risiko yang lebih responsif dari pemerintah daerah, terutama dalam mengamankan pasokan utilitas publik seperti kapasitas air bendungan untuk operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

Selain itu, aksi dini juga harus menyasar sektor lingkungan melalui penyiapan mekanisme respons cepat guna mengantisipasi memburuknya kualitas udara yang berpotensi memicu lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Untuk sektor kebencanaan dan kehutanan, BMKG meminta penguatan komando kesiapsiagaan di tingkat tapak demi mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada puncak kemarau.

Oleh karena itu, BMKG berharap informasi pemutakhiran prediksi musim kemarau ini dapat dijadikan panduan otentik bagi pemangku kepentingan untuk menyeimbangkan antara strategi mitigasi risiko bencana serta optimalisasi peluang ekonomi yang muncul selama periode kemarau.

Baca juga: Pemprov Babel bentuk TRC lintas instansi atasi ancaman El Nino

Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Sambas
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.