Jakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut sejumlah hal yang mempengaruhi suhu udara di sebagian wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya terasa jauh lebih gerah atau sumuk beberapa hari terakhir, bahkan diprediksi berlangsung hingga akhir September mendatang.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan dalam konferensi pers "Perkembangan Musim Kemarau Indonesia 2026" di Jakarta, Rabu, mengatakan fenomena hawa panas tersebut dipicu oleh posisi kulminasi matahari yang bergerak tepat di atas cakrawala Pulau Jawa dan memang sedang dalam periode kemarau.

Baca juga: Faktor pemanasan permukaan picu suhu udara terasa gerah

"Mengenai temperatur di DKI Jakarta itu akan terasa lebih sumuk kalau orang Jawa bilang, karena sekitar bulan September akhir hingga Oktober, posisi matahari itu persis melintas di sekitar wilayah atasnya Pulau Jawa," kata dia.

Dia menjelaskan sebelum memasuki fase lonjakan suhu ekstrem pada pengujung September tersebut, wilayah ibu kota akan terlebih dahulu dihadapkan pada karakteristik udara kering yang disertai berkurangnya tingkat kelembapan sepanjang Juli hingga Agustus.

Kombinasi antara penurunan kelembapan udara di pertengahan tahun dan kenaikan temperatur di bulan Oktober merupakan siklus iklim tahunan yang khas melanda kawasan hilir Pulau Jawa saat berada di pusat puncak musim kemarau.

Dampak dari fenomena El Nino tahun ini juga diproyeksikan mempertegas durasi cuaca panas tersebut, dimana wilayah Jabodetabek secara umum dipastikan mengalami periode musim kemarau yang berlangsung jauh lebih panjang dari kondisi normalnya.

Berdasarkan laporan yang dipaparkan BMKG dalam konferensi pers tersebut diketahui wilayah DKI Jakarta bagian utara dilaporkan sudah terlebih dahulu memasuki awal musim kemarau sejak bulan Mei lalu, sementara wilayah Jakarta bagian selatan baru menyusul masuk pada bulan Juni ini.

Selain berdampak pada anomali suhu dan perpanjangan musim kering, hantaman El Nino di wilayah ibu kota ini juga berimbas langsung pada penurunan kualitas udara akibat berkurangnya intensitas curah hujan.

Baca juga: BMKG: Butuh ketegasan kepala daerah atasi polusi udara di Jakarta

Baca juga: Pakai masker, kualitas udara Jakarta terburuk kedua di dunia

Ardhasena menyebutkan bahwa minimnya hujan dalam beberapa bulan ke depan membuat lapisan atmosfer di atas Jakarta kehilangan instrumen alami untuk mencuci partikel polusi yang diproduksi oleh aktivitas transportasi harian hingga pabrik.

Oleh karena itu, BMKG mengimbau masyarakat di kawasan kota megapolitan ini untuk mengantisipasi perubahan pola cuaca dengan senantiasa menjaga kondisi kesehatan fisik, asupan makan-minum serta merujuk pada saluran informasi cuaca resmi pemerintah saat beraktivitas.

Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.