Moskow (ANTARA) - Jerman tengah mempertimbangkan sejumlah opsi, termasuk proyek mandiri bersama Airbus, setelah program jet tempur masa depan bersama Prancis (FCAS) resmi dibatalkan, demikian Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius pada Selasa.

"Ada beberapa pilihan: pertama memesan jet F-35 tambahan sebagai solusi sementara, kedua bergabung dengan proyek internasional yang sudah ada, atau membuat proyek sendiri di bawah kepemimpinan Jerman yang melibatkan Airbus dan mitra lainnya," kata Pistorius dalam konferensi pers.

Ia mengungkapkan bahwa Pemerintah Jerman telah melakukan negosiasi rahasia dengan Airbus selama berbulan-bulan.

Meski demikian, Pistorius memperingatkan bahwa masih terlalu dini untuk mengambil keputusan akhir. Semua opsi tengah dikaji, termasuk opsi keempat yang enggan ia rinci lebih lanjut.

Pada hari yang sama, surat kabar Financial Times melaporkan bahwa delapan perusahaan dirgantara dan pertahanan yang dipimpin oleh Airbus telah menyatakan minat mereka untuk bersinergi menciptakan proyek alternatif pengganti FCAS.

Program FCAS diluncurkan pada 2017 untuk menciptakan pesawat tempur masa depan guna menggantikan jet Rafale milik Prancis serta Eurofighter milik Jerman dan Spanyol.

Proyek bernilai miliaran euro itu karam setelah Airbus dan Dassault asal Prancis gagal menyelesaikan sengketa terkait kepemimpinan proyek tersebut.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti

Baca juga: Pengiriman F-35 tak jelas, Eropa dikabarkan buat sendiri jet tempurnya

Baca juga: Reading jadi markas program jet tempur Inggris, Jepang dan Italia

Penerjemah: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Arie Novarina
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.