Jakarta (ANTARA) - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dinilai dapat menjadi momentum untuk meningkatkan konsumsi produk lokal seiring kenaikan harga barang impor di pasar domestik.
Pengamat ekonomi sekaligus dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Dr. Toto Pranoto S.E., M.M mengatakan depresiasi rupiah membuat produk impor menjadi lebih mahal sehingga membuka peluang yang lebih besar bagi produk dalam negeri untuk bersaing.
"Dengan depresiasi rupiah tentu harga barang impor jadi mahal, sehingga potensi produk domestik untuk unjuk gigi makin terbuka," kata Toto Pranoto saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Rabu.
Baca juga: Menteri UMKM akui pelemahan rupiah mulai tekan sejumlah pelaku usaha
Menurut dia, kondisi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kontribusi konsumsi produk lokal terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, terutama apabila didukung dengan penerapan kebijakan yang mendorong penggunaan produk dalam negeri.
Toto menilai implementasi aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang lebih konsisten dapat menjadi salah satu instrumen penting untuk memperkuat posisi produk lokal di pasar domestik.
Meski demikian, ia mengingatkan masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu diatasi agar industri dalam negeri dapat memanfaatkan momentum tersebut secara optimal.
Baca juga: Gubernur BI: Cadangan devisa tetap kuat antisipasi pelemahan rupiah
Salah satu tantangan utama, kata dia, adalah maraknya peredaran barang impor ilegal yang berpotensi mengganggu daya saing produk lokal.
"Tantangan utama tentu terkait bagaimana industri lokal bisa dilindungi dari produk barang impor selundupan yang sangat marak akhir-akhir ini," ujarnya.
Selain itu, Toto menyoroti ketergantungan sejumlah pelaku usaha, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), terhadap bahan baku impor.
Baca juga: Gubernur BI ungkap 5 faktor kurs 2027 bisa Rp16.800-17.500 per dolar
Menurut dia, jaminan ketersediaan bahan baku menjadi faktor penting agar proses produksi pelaku usaha domestik tidak terganggu ketika nilai tukar rupiah mengalami tekanan.
Ia menambahkan pemerintah perlu memperketat pengawasan di pintu masuk impor untuk mencegah praktik penyelundupan sekaligus memastikan implementasi TKDN berjalan efektif.
Di sisi lain, produsen lokal juga perlu meningkatkan efisiensi produksi, memperkuat akses terhadap pasokan bahan baku, serta membangun citra merek yang kuat guna meningkatkan daya saing produk dalam negeri.
"Company branding yang kuat bisa jadi faktor yang menentukan daya saing mereka ke depan," kata Toto.
Baca juga: Mendag: Barter dagang bantu kurangi kebutuhan dolar AS
Baca juga: Siasat atur pengeluaran semasa nilai tukar rupiah melemah
Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.